Home / Artikel / Bukan Pesuruh Kok Disuruh-suruh

Bukan Pesuruh Kok Disuruh-suruh

 
Bayangkan. Anda bekerja di perusahaan bonafid. Gaji berjuta-juta sebulan. Tapi Anda masih suka disuruh-suruh. Cocok nggak tuch? Jelas nggaklah. Dengan standar apapun gak cocok. Kecuali, kalau titel jabatan Anda adalah pesuruh. Alias orang yang dipekerjakan untuk disuruh-suruh.
Anehnya, banyak sekali orang yang bukan pesuruh namun sehari-hari kerjanya disuruh-suruh. Padahal, tidak seorang pun suka disuruh. Sekalipun dia seorang pesuruh. Yang namanya disuruh, nggak ada enaknya sama sekali. Kalaupun mau melakukannya, terpaksa saja karena butuh.
Ya. Kita mau bekerja karena butuh. Tetapi, hendaknya tidak sampai menempatkan diri menjadi pekerja yang harus disuruh-suruh. Bukan sekedar menghindari pekerjaan bertitel pesuruh. Tapi, perilaku kerja kita mesti tidak cocok untuk disuruh.
Lantas, pekerja seperti apa yang tidak cocok untuk disuruh-suruh itu? Cuman satu cirinya. Yaitu, pekerja yang mampu mengambil inisiatif. Sesederhana itu saja sebenarnya. Kalau Anda gemar mengambil inisiatif, siapa yang merasa perlu menyuruh Anda? Nggak ada.
Ambil inisiatif untuk melakukan pekerjaan yang memang sudah seharusnya Anda kerjakan. Jika tahu bahwa sesuatu itu berkaitan dengan tujuan keberadaan Anda dikantor itu, maka lakukanlah tanpa disuruh.
Dijamin. Anda tidak akan terpaksa melakukannya. Dan itu, tidak menempatkan diri Anda pada posisi rendah. Iyakah? Iya. Walaupun yang Anda lakukan adalah sekedar memungut sampah. Misalnya. Kalau Anda melakukannya atas inisatif sendiri, Anda mulia. Kalau karena disuruh, Anda rendah.
Loh, mungutin sampah kok kita yang lakukan? Ingat. Saya tadi mengatakan: “Ambil inisiatif untuk melakukan pekerjaan yang memang sudah seharusnya Anda kerjakan. Jika tahu bahwa sesuatu itu berkaitan dengan tujuan keberadaan Anda dikantor itu, maka lakukanlah tanpa disuruh.”
Kata kuncinya bukan ‘Job Description’, melainkan dalam kalimat ini: Jika tahu bahwa sesuatu itu berkaitan dengan tujuan keberadaan Anda dikantor itu, maka lakukanlah tanpa disuruh.
Jika untuk hal sepele saja kita mesti mengambil inisiatif, apalagi untuk hal-hal yang penting sekali kan? Maka tidak pantas jika untuk menyelesaikan strategic objective saja masih harus disuruh-suruh. Atasan Anda juga cape kalau mesti terus nyuruh-nyuruh.
Perhatikanlah. Hal sederhana berupa ‘mengambil inisatif’ saja bisa berdampak sedemikian besarnya pada harga diri kita. Dan pada karir kita. Orang yang punya inisiatif, lebih dihargai daripada orang yang mesti disuruh. Orang yang mengambil inisiatif, lebih siap menerima amanah besar daripada mereka yang mesti disuruh.
Jangan lupa juga. Orang yang mengambil inisiatif itu, lebih senang hati ketika melakukan sesuatu daripada mereka yang melakukannya karena disuruh. Dan itu, membuat dia bahagia selama menjalani aktivitas kerjanya. Kenapa?
Ya karena dia menyadari sepenuhnya peran penting dirinya bagi perusahaan. Sehingga dia dengan sukarela melakukannya. Tanpa seorang pun harus menyuruhnya. Maka dia. Dapat pekerjaan yang menyenangkan. Dan insya Allah, karirnya pun akan semakin membaik dihari kemudian.
Catatan kaki:
Pesuruh saja belum tentu suka disuruh-suruh. Apalagi kalau posisi kita bukan pesuruh. Janganlah membiarkan sikap dan perilaku kerja kita jadi cocok untuk disuruh-suruh.

Artikel
 
 

0 Comments

You can be the first one to leave a comment.

 
 

Leave a Comment