Home / Artikel / Bukan Basa Basi Menejmen

Bukan Basa Basi Menejmen

 
Bosen ya, kalau dinasihatin soal professionalisme. Apalagi kalau yang ngomongnya nggak pernah merasakan bagaimana rasanya bekerja pada posisi seperti kita. Tahu apa dia soal pekerjaan kita? Maka nasihatnya nggak lebih dari sekedar basa basi belaka.
Nggak juga. Nasihat yang baik, tetaplah baik. Terlepas dari siapa datangnya. Lagi pula, memang sudah tugas kita untuk saling mengingatkan. Saling menguatkan. Dan saling memotivasi kan? Ada kalanya kita yang dinasihati. Dan pada kesempatan lain, kita yang mesti sanggup menasihati. Itu bukan teori saya. Tapi, perintah Tuhan yang jelas tertera dalam Al-Qur’an.
Faktanya, tak seorang pun bisa istiqomah dalam sikap dan perilaku yang baik. Termasuk saya? Iya. Soal perimbangan antara hak dan kewajiban, misalnya. Betapa seringnya kita menuntut hak, tanpa mempertimbangkan apakah kewajiban kita sudah ditunaikan sampai tuntas.
“Nggak mesti gitu-gitu amat kalee Dang. Kan sudah umum begitu!” Mungkin Anda berpendapat demikian. Baiklah. Namun ada 2 hal yang layak untuk direnungkan. Satu, kita perlu menyadari bahwa seseorang layak disebut sebagai ‘profesional’, jika dan hanya jika sikap dan perilakunya mencerminkan profesionalitas. Jika tidak, maka dia masuk kategori amatiran.
Dua. Setiap rupiah yang kita terima dari kantor merupakan bayaran atas pekerjan kita. Betul kan? Maka hal-hal yang tidak terkait dengan pekerjaan, tidak layak dibayar. Jadi, waktu kerja yang digunakan untuk hal-hal tak terkait pekerjaan merupakan ciri tidak professionalnya kita. Karena nilai waktu yang dibayar itu menjadi kopong. Yang saya khawatirkan adalah, jangan-jangan gaji yang kita terima itu tidak diimbangi dengan kinerja yang semestinya kita. So what gitu loh?
Begini. Kalau hanya karena soal itu lalu Tuhan menganggap kita memakan sesuatu yang bukan hak kita bagaimana? Dia bisa marah. Sehingga nafkah kita, kurang berkah. Maka sikap profesionalitas itu bukan sekedar basa basi menejemen. Melainkan sebuah tekad dan itikad. Untuk mendapatkan keridoan Allah ta’ala. Melalui pekerjaan yang kita jalani. Sehingga kita, bukan hanya dapat status dan bayaran saja dari bekerja itu. Melainkan juga mendapatkan restu dari Allah SWT. Insya Allah.
Catatan kaki:
Bekerja itu bukan semata-mata untuk mendapatkan pemenuhan kebutuhan terhadap materi belaka. Melainkan juga keberkahan dan ketenangan batin. Yang hanya bisa diraih melalui kesungguhan dan komitmen untuk memberikan yang terbaik dari yang kita bisa.

Artikel
 
 

0 Comments

You can be the first one to leave a comment.

 
 

Leave a Comment