Home / Artikel / BUAH DARI KEBAIKAN

BUAH DARI KEBAIKAN

 

Ada orang yang dihormati karena jabatannya. Salah? Tidak. Sah-sah saja. Ada juga yang dihormati karena kekayaannya. Sah juga. Karena pamor orang tuanya? Juga sah. Karena ketampanannya. Kecantikannya. Semua sah. Manusia, menghormati orang lain for reason. Ada alasannya. Dan apapun alasan itu, sah.

Kita, tidak perlu berpura-pura tak butuh penghormatan dari orang lain. Karena hal itu, merupakan bagian dari pengakuan atas eksistensi kita. Wajar, jika kita saling menghormati bukan?

Pertanyaannya adalah; apakah kita ingin rasa hormat itu terus ada hingga akhir hayat? Ataukah rela membiarkannya luntur? Ah, pertanyaan bodoh itu. Semua orang, tentu ingin dihargai sampai akhir hayatnya. Bahkan konon, banyak orang yang sulit menerima kenyataan memudarnya penghormatan orang lain pada dirinya.

Saya ganti pertanyaannya jadi begini; “Bagaimana caranya supaya rasa hormat itu langgeng?” Karena orang punya alasan tertentu untuk menghormati orang lain, maka untuk melanggengkan rasa hormat itu tidak ada cara lain selain; melanggengkan alasan munculnya rasa hormat itu.

Jika orang menghargai karena jabatan kita, misalnya. Ya langgengkan saja jabatan itu. Orang pasti hormat terus. Jika rasa hormat mereka timbul karena kekayaan kita, maka tinggal melanggengkan kekayaan itu saja kan untuk membuat mereka tetap hormat. Sah? Tentu saja.

Tetapi, realitas menunjukkan bahwa sumber rasa hormat itu sifatnya tidak langgeng. Contohnya jabatan itu tadi. Begitu pensiun, dicopot itu jabatan. Kekayaan juga bisa hilang begitu saja. Bahkan konon penasihat kekayaan tingkat dunia pun divonis pailit baru-baru ini kan?

Lalu, adakah sumber rasa hormat yang langgeng? Ada. Yaitu, sifat-sifat Sang Maha Langgeng.

Anda, tentu mengenal orang yang dihormati bukan karena kekayaan atau jabatannya kan? Mereka dihormati karena perilakunya baik. Sesederhana itu saja. Atau, karena hidupnya bermanfaat bagi orang lain. Tak lebih dari itu.

Perilaku baik dan bermanfaat bagi orang lain itu merupakan contoh dari sifat Sang Maha Langgeng. Makanya, orang yang pernah berbuat baik; namanya bersemayam terus didalam hati sanubari kita. Orangnya sudah meninggal pun masih kita kenang. Kita ingat terus kebaikan-kebaikannya.

Makanya Rasulullah menasihatkan kepada kita untuk terus memperbaiki akhlaq. “Sesunguhnya aku, diutus untuk memperbaiki akhlaq,” demikian sabdanya. Maka akhlaq yang baik, menjadikan pemiliknya layak mendapatkan rasa hormat. Bukan hanya dari sesama manusia saja. Bahkan malaikat pun menaruh hormat kepadanya.

Bagaimana dengan sifat memberi manfaat kepada orang lain? Rasulullah menegaskan bahwa:”Sebaik-baik manusia, adalah yang paling banyak manfaatnya bagi orang lain.”

Bagi orang-orang yang memiliki sifat baik. Dan mereka yang hidupnya bermanfaat buat orang lain. Rasa hormat itu didapatnya secara permanen. Karena setiap kebaikan, selalu mendapat tempat dihati siapapun.

Kebaikannya seperti benih yang tumbuh menjadi pohon yang kokoh, lalu lebat berbuah. Dari buah itu muncul lebih banyak benih. Dan tumbuh lagi. Berbuah lagi. Dan berbenih lagi. Demikian Allah memberi perumpamaan dalam Al-Quran.


Artikel
 
 

0 Comments

You can be the first one to leave a comment.

 
 

Leave a Comment