Home / Artikel / BOSAN HIDUP

BOSAN HIDUP

 

Tak masalah, jika kita merasa bosan dengan makanan. Masih banyak alternatif lainnya. Nasi goreng. Nasi padang. Nasi Pecel. Bahkah jika bosan dengan nasi sekali pun. Masih ada pecel tanpa nasi, kan. Tapi apa jadinya jika kita bosan hidup?

Jika dikaji, kebosanan kita terhadap sesuatu; utamanya disebabkan karena terlalu sering memakannya, memakainya, mengalaminya. Soal sepatu misalnya. Istri saya bilang;”Sepatu yang ini kasihin aja yah,” katanya. “Aku suka banget sih,” lanjutnya. “Tapi aku sudah bosan…”. Saya sih setuju aja, asal tidak ada ‘klaim’ kuitansi sepatu baru…

Terlalu sering, menyebabkan kita didera kebosanan. Makanan. Pakaian. Perhiasan. Segala hal, kalau terlalu sering mah; bakal bosan juga. Hanya satu hal yang nggak sering tapi orang bosan. Hidup. Coba ingat kembali. Emangnya sudah berapa kali kita hidup? Cuma sekali. Lah, kok bosan. Aneh kan?

Saya juga kadang merasa bosan. Makanya sering merenungkan. Agar menemukan jawaban. Sehingga kembali terbebas dari kebosanan itu. Lalu menemukan kembali indahnya.

Dengan semakin ruwetnya situasi yang kita hadapi sehari-hari, ternyata memang banyak sekali hal yang bisa membuat kita dilanda kebosanan. Tapi. Dari sekian banyak penyebabnya, saya menemukan 4 hal yang menduduki peringkat tertinggi. Mari kita cermati.

Di peringkat keempat ada ‘KEGIATAN YANG MONOTON’. Coba Anda perhatikan. Setiap hari, apakah Anda melakukan aktivitas rutin yang sama? Bangun pagi, mandi, pergi, melakukan itu dan ini, pulang, tidur, bangun pagi, mandi, teruuus aja begitu.

Maka tak heran dong, kalau kita bakal merasa bosan. Lha setiap hari kita melakukan yang sama. Apa lagi jika sambil mengharapkan hasil yang berbeda. Mengharapkan hasil yang beda dari usaha yang sama? Einstein bilang, itu GILA namanya. Makanya, do things differently. Change often. Maka kita akan terbebaskan dari rasa bosan.

Peringkat ketiga diraih oleh ‘PERASAAN HAMPA’. Bengooong aja. Itu salah satu ciri orang yang sedang dilanda kebosanan. Gimana gak bosan kalau mata belo itu cuma dipakai untuk pandangan kosong. Otak cerdas itu dibikin beku. Tangan dan kaki trengginas itu dibuat nganggur.

Do something. Any thing. Menulis kek. Melukis kek. Mengotak atik mesin kek. Lari pagi kek. Menyulam kek. Maaf, kalau menyulam ‘nek’ ya; bukan ‘kek’. Jaaangan sekali-kali membiarkan tubuh Anda nganggur. Konon tubuh yang menganggur itu rawan KERASUKAN. Ih, amit-amit. Kerasukan apa emang? Kerasukan rasa bosan. Do some thing, oke?!

Peringkat kedua ditempati oleh ‘PERASAAN TIDAK BERARTI’. Rumah megah. Mobil mewah. Penampilan serba wah. Tapi kok dilanda kebosanan. Rupanya, gelimang harta tidak membuat orang bebas dari perasaan tidak berarti. Dan setelah saya pelajari, ternyata perasaan tidak berarti ini merupakan salah satu indikasi adanya depresi. Bosan hidup. Lalu cari mati.

Terus gimana dong solusinya. Banyak juga ternyata. Misalnya, ketika makan siang. Makanlah menu yang paling Anda sukai. Setelah kenyang, pesan satu porsi lagi. Bungkus. Lalu berjalanlah. Sampai bertemu dengan orang berpakaian lusuh. Yang sedang lapar. Pemulung misalnya.

Berikan kepadanya. Lalu tataplah wajahnya. Lihatlah senyumnya. Dengarlah kata-kata yang meluncur dari bibirnya. Dan rasakan terpesonanya mata lahir dan batin Anda. Di momen itu. Anda akan menemukan fakta tentang. Betapa berartinya diri Anda. Betapa beruntungnya Anda. Dan betapa berharganya hidup Anda.

Dan peringkat pertama, diduduki oleh; ‘JAUH DARI NILAI-NILAI ILAHI’. Jika kita mati nanti, terus apa? Samakah Anda dengan kucing? Kambing. Atau kelinci yang jika mati semuanya selesai? Lalu apa arti semua ini jika segalanya berhenti di titik akhir bernama mati?

Kita bukan cacing yang jika mati lalu membusuk. Kita bukan ikan yang kalau mati terlarut. Kita ini manusia, yang mati itu merupakan pintu keluar dari dunia; untuk masuk ke alam akhirat. Maka dekat-dekatlah dengan Alloh. Kalamnya. Perintahnya. Tuntunannya. Lalu reguklah firmannya; ‘Alaa bidzikrillaahi Tathma’innul Quluub…”


Artikel
 
 

0 Comments

You can be the first one to leave a comment.

 
 

Leave a Comment