Home / Artikel / Betapa Beruntungnya Kita

Betapa Beruntungnya Kita

 
Betapa Beruntungnya Kita mendapatkan semua yang ada. Untuk hal itu kita perlu meminjam mata orang lain untuk melihat dan merasakannya setiap saat.
Nggak bakal ada orang yang mau meminjamkan mata. Kalau dalam pengertian harfiah. Tapi, orang selalu bersedia mengemukakan sudut pandang pribadinya terhadap sesuatu.
 
Maka walau tak bisa dipinjam secara fisik, tapi mata orang lain bisa dipinjam secara fungsi. Dengan kata lain, kita menggunakan sudut pandang orang lain untuk melihat segala sesuatu yang sudah terlalu biasa kita lihat.
 
Tapi perlukah itu? Perlu sekali. Soalnya, kita sering kehilangan ‘gereget’ terhadap sesuatu yang ada disekitar kita. Awalnya sih memang kinclong banget dimata kita. Tapi lama kelamaan citra yang terekam mata jadi biasa saja. Sehingga kita, tidak merasakan lagi gairahnya.
 
Contoh. Kalau Anda baru beli mobil. Indah nian mobil itu dimata Anda kan? Tapi ketika pabrik mobil mengeluarkan model baru. Walau tipenya sama, tapi sekarang Anda melihat mobil Anda serasa ketinggalan zaman.
 
Istri atau suami kita. Waktu baru menikah dulu, dimata kita;”dialah satu-satunya…” Tapi karena sudah bertahun-tahun hidup bersamanya, maka cara pandang kita berubah kepadanya.
 
Hari Rabu kemarin. Saya meeting dengan klien. Untuk sebuah acara training. Setelah selesai, sholat Ashar di masjid yang terletak dibelakang gedung perkantoran keren itu. Selesai solat, sepatu saya…. sudah tidak lagi berada di tempatnya….
 
Ada banyak sepatu jamaah lainnya. Tapi kenapa sepatu saya?! Emang bagusnya apa sih sepatu itu?
 
Nah. Persis ketika pertanyaan itu muncul, saya sampai pada sebuah kesadaran bahwa. Dimata orang lain. Sepatu saya itu istimewa. Sehingga dia memilihnya diantara sepatu-sepatu lainnya.
 
Saya sadar betapa selama ini saya tidak lagi memandang sepatu itu seperti dulu ketika hendak membelinya. Lupa saya jika dulu pernah tertarik kepadanya. Hingga rela merogoh kocek untuk memilikinya.
 
Itu dulu. Sekarang. Setelah beberapa waktu sepatu itu melayani saya. Malah saya menginjak-injaknya. Oh, sepatuku. Maafkan aku…. Begitu kira-kira akting saya kalau boleh lebay.
 
Sepatu yang saya pandang ‘biasa saja’ itu ternyata dinilai sedemikian tinggi oleh orang lain….
 
Saya merenung. Iya ya. Betapa banyak hal berharga yang Tuhan anugerahkan kepada kita.
 
Kuluarga. Teman. Rumah. Motor. Mobil. Kesehatan. Pekerjaan. Keamanan… Silakan sebutkan satu demi satu.
 
Ya Alloh… banyak baaanget. Maka pantas jika firman Alloh menegaskan bahwa tinta sebanyak air seisi 7 lautan pun takkan sanggup menuliskan semua nikmatNya.
 
Ironisnya. Kita tidak melihat betapa berharganya semua itu. Justru orang lainlah yang sadar ketinggian nilainya. Maka tak heran jika kita sering mendengar orang lain bilang;”Betapa beruntungnya Kang Dadang….”
 
Atau “Enak banget ya jadi Anda…” karena mata orang lain lebih peka pada keindahan anugerah yang Alloh berikan kepada kita. Sedangkan kita, menganggapnya biasa aja.
 
Lucu. Kita memandang orang lain lebih beruntung dari kita. Padahal, mereka melihat hal yang sebaliknya. Maka kita jadi kompak untuk hanya mengagumi milik orang lain. Milik kita sendiri sudah tak menarik lagi.
 
Tunggu deh sampai kehilangan semua hal berharga itu. Biar nyaho. Gimana rasanya hidup tanpanya. Tanpa semua hal yang sudah kita dapatkan. Tapi tidak. Sebaiknya tidak harus menunggu sampai hilang dulu ya.
 
Nggak enak banget rasanya. Dari pada kehilangan. Mendingan kita belajar meminjam mata orang lain untuk melihat, betapa beruntungnya diri kita. Supaya rasa syukur kita tak pernah luntur. Dan kita, semakin rajin bertafakur.
 

Artikel
 
 

0 Comments

You can be the first one to leave a comment.

 
 

Leave a Comment