Home / Artikel / Berdaya Saingkah Masyarakat Indonesia?

Berdaya Saingkah Masyarakat Indonesia?

 
Akhir-akhir ini, kita melihat sedemikian banyaknya masyarakat Indonesia yang semakin tidak berdaya. Bukan pesimisme yang saya maksudkan. Melainkan ‘wake up call’. Supaya kita terbangun dari keterlenaan.
 
Disadari atau tidak, daya saing masyarakat kita semakin menurun. Baik untuk bersaing dengan kemajuan teknologi. Dengan arus kapital investor sekelas T-Rex. Maupun bersaing dengan ‘manusia-manusia’ lainnya. Khususnya di zaman ketika dari mana-mana semakin banyak orang berdatangan ke negeri kita.
 
Maka tanpa daya saing, masyarakat Indonesia hanya akan kebagian remah-remah dari lezatnya kue kesuburan dan kemakmuran serta melimpah ruahnya sumber daya alam kita. Ironisnya, itu terjadi di negerinya sendiri.
 
Menyaksikan masyarakt Indonesia kini, seperti menatap orang-orang yang tidak berdaya. Yang semakin hari, bukannya semakin kompetitif. Tapi malah semakin melemah saja. Dari mana indikasinya? Banyak. Salah satunya, dari mereka punya pancaran cahaya di raut wajah…
 
Bisa kita baca beban hidup dari wajah mereka. Anda, misalnya. Tidak akan tahu apa yang saya alami dalam hidup. Tetapi ketika Anda melihat cahaya di wajah saya meredup. Maka Anda tahu bahwa saya sedang dirundung masalah. Sesederhana itu saja sebenarnya. Untuk membangun sensitivitas kebangsaan kita.
 
Lantas. Siapa yang bertanggungjawab untuk meningkatkan daya saing mereka yang secara ekonomi semakin terpinggirkan itu? Perusahaan tempatnya bekerja iya. Dirinya sendiri iya. Oh. Satu lagi. Pemerintah tentunya. Bukankah pemerintah ada untuk mensejahterakan rakyatnya sebagai prioritas utama?
 
Pertama, diri sendiri. Tanggungjawab mendidik diri itu terletak di pundak sendiri. Beberapa hari lalu, misalnya. Saya harus 2 kali naik taksi dari metropolitan bekasi menuju ke cibubur.  Kecewa. Karena keduanya mengaku tidak tahu jalan. Padahal bukan taksi ecek-ecek loh.
 
Sopir pertama tersesat ke Pelabuhan Tanjung Priuk. Sopir kedua, tidak tahu pintu tol cibubur. Sempat kesaaaal, walau ditahan-tahan dalam hati. Agak kapok juga. Karena rugi ‘segala-galanya’.
 
Tapi. Tadi malam. Dan hari ini. Para sopir taksi konvensional itu berjejer di pinggir jalan. Dengan wajah yang…. begitulah. Mungkin karena sepi penumpang. Sambil memikirkan apa hasil usaha yang bisa mereka bawa pulang. Tiba-tiba hati jadi lumer lagi…
 
Kedua. Tanggungjawab perushaan. Dalam kasus kedua sopir taksi itu, mereka mengaku baru bekerja 3 sampai 4 minggu saja. Saya percaya dari nada bicara dan aura percakapan kami serta permohonan maaf berulang-ulang kali yang mereka ucapkan.
 
Maka perusahaan itu bertanggungjawab untuk mendidik karyawannya hingga memiliki kompetensi yang memadai untuk menjalankan tugasnya melayani pelanggan. Supaya mereka sendiri jadi bahagia karena dihargai pelanggannya. Bukankah kita bahagia ketika pelanggan puas atas pelayanan yang kita berikan?
 
Ketiga. Peran pemerintah. Akhir-akhir ini saya sering sedih menyaksikan para ponggawa negeri. Menyimak program kerjanya. Menyimak perilaku aparatnya. Menyimak keberpihakkan kebijakan yang dibuatnya. Menyimak…. Kisah sopir taksi itu hanya contoh kecil saja. Di sektor lainnya…. tak kalah miris. Sampai rasa hati ingin menjerit ‘Bapak Dimana?’.
 
Tidak boleh kita menafikan peran pemerintah. Sudah ada. Tapi. Kita berharap lebih banyak hal lagi yang bisa pemerintah buat untuk rakyatnya. Minimal, memberi bekal yang memadai untuk bisa bersaing dengan – khususnya – para pendatang yang semakin hari semakin menjadi-jadi.
 
“Rakyat di negeri kita ini sedang pada susah. Entah apakah bisa berharap apah. Kepada siapah…. ataukah… ah. Sudahlah. Nanti pipi bisa basah….” Bisa saja begitu pikiran kita kalau sudah kehilangan harapan.
 
Tapi. Masih adalah asa itu. Setidaknya, bangsa Indonesia masih punya kesempatan. Untuk melakukan pembenahan. Lakukan sendiri, bagian kita. Lakukan oleh perusahaan, tugas perusahan. Dan lakukan oleh aparat negara hal yang menjadi kewajiban pemerintah. Untuk Indonesia.

Artikel
 
 

0 Comments

You can be the first one to leave a comment.

 
 

Leave a Comment