Home / Artikel / Benarkah Kejujuran Menghalangi Keberhasilan?

Benarkah Kejujuran Menghalangi Keberhasilan?

 
Kejujuran seakan merupakan barang langka dizaman kita. Semua kalangan hampir seragam berpandangan demikian. Pekan lalu, dalam training untuk para kepala kantor sebuah bank daerah, misalnya. Kami ‘menemukan’ bahwa realitas bisnis tak selalu sejalan dengan teori diatas kertas. Bahkan banyak pelaku bisnis percaya bahwa kalau jujur, nggak bakal menang dalam persaingan. “Apa iyya?” Begitu pertanyaan menantang saya kepada para peserta.
Tidak mudah loh menjawab pertanyaan itu. Kalau jawaban ideal sih gampang. Jawaban yang realistisnya tidak semudah itu. Saya justru menemukan jawabannya dari Z. Anak lelaki saya yang masih SD penggemar GrowTopia. Suatu saat saya pergoki dia sedang bicara intense sekali dengan temannya. Ketika saya tanya, Z menjelaskan kalau dia telah di scam orang. Di GT World, mereka disebut Scammer alias Penipu. Dia mencuri kaca mata laser. Dia ‘berjanji’ akan mengembalikannya kalau Z membayarnya 1WL (World Lock).
Kalau game online ini dimainkan dengan tepat, sangat bermanfaat untuk melatih anak-anak bekerja, bersikap, berperilaku dan membawa diri dalam lingkungannya. Karena, game ini didesain layaknya sebuah dunia dimana setiap pemain bisa saling berinteraksi ‘mirip’ dengan kehidupan nyata. “Jadi gimana dong Bang?” begitu saya bertanya.
“Tenang aja, Yah,” jawabnya. “Nanti juga aku dapetin lagi.” Dia sama sekali tidak sedih sudah ditipu. Malah jadinya kami berdiskusi tentang betapa hinanya seseorang yang doyan main curang. Hanya orang yang tidak punya kehormatan saja yang curang. Iya, tapi gimana bisa menang kalau nggak curang?
Rupanya Z tahu kalau teman ngobrolnya itu connected dengan si scammer.  Dan dalam sebuah kompetisi, Z pernah mengalahkannya sehingga tank penghancur kesayangannya menjadi milik Z.
Kalau temannya itu bisa membujuk si scammer untuk mengembalikan lasernya, maka Z akan memberikan  tanknya sebagai imbalan. Temannya setuju. “Paling telat akhir agustus ya,” Z mengultimatum.
Sempat terharu juga saya ketika tahu Z punya strategi seperti itu. Saya memonitor terus progresnya. Setiap hari saya tanya apakah sudah kembali lasernya. Dijawabnya, ‘belum’. Hari berikutnya, saya mendengar bahwa temannya itu menyerah. Karena si scammer tidak mau mengembalikan barang yang dicurinya.
Kemarin sore, saya ngobrol lagi. Maksud hati sih mau menghiburnya. Eh, saya malah mendapatkan jawaban ini. “Nggak apa-apa.” Katanya. “Aku sudah punya lagi.” Sebelum saya bertanya lagi, dia keburu mengatakan; “Aku beli lagi.”  
“Loh, rugi dong kamu Bang.” Kebayang kan perasaan seorang ayah yang tahu anaknya ditipu orang?
“Ya enggaklah,” katanya. Sambil menunjukkan gadgetnya kepada saya. “Gini caranya, Yah.” Jelasnya.
Rupanya dia mendapat laser baru dari random package yang ditawarkan seharga hanya 50 kristal berisi 3 kostum + laser glasses. Jauh lebih murah dari nilai pemerasan si scamer yang tidak jujur itu; senilai 1 WL atau setara dengan 2000 kristal.
Begini perimbangan hasilnya: Sang penipu itu mungkin untung 1 laser hasil curian. Tapi dia diblaklist karena orang sudah tahu tabiat buruknya. Dalam kehidupan nyata, kita melihat banyak orang tidak jujur yang masuk penjara, atau hidupnya resah karena harus lari kesana kemari. Minimal, mereka harus membuat kebohongan atau keburukan lainnya untuk menutupi keburukan yang telah dilakukannya dimasa lalu.
Bagaimana dengan Z?  Memang, dia kehilangan laser. Tapi dia menang reputasi. Dan lucunya, dia dapat laser baru dengan effort yang sangat kecil. Bahkan tanpa diduga. Dalam kehidupan nyata, kita melihat banyak orang jujur yang hidupnya tenang dan tenteram. Tidak ada kekhawatiran kalau seseorang akan membongkar aibnya. Jadi santai saja. Dan, hidupnya selamat sejahtera; baik didunia, maupun diakhirat. (Bersambung ke Bagian ke-2)
Kalau Anda pernah main GT juga, Anda tahu bahwa dalam random package; kita tidak pernah tahu apa isinya. Maka ketika Z mendapatkan laser baru bukan karena dia mencarinya. Melainkan karena energi semesta menjalankan perintah Tuhan untuk menjaga dan melindungi orang- orang jujur.
Lihatlah. Bahkan alam semesta pun mendukung orang-orang yang punya integritas. Untuk mendapatkan haknya secara penuh dan utuh. Malah ada bonus tambahan lainnya pula.
Sampai tadi pagi, saya masih membahas makna kejujuran dengan Z. Bukan saya yang mengajari dia. Tapi dia yang mengajari saya dengan gaya polos seorang anak SD. Masihkah orang dewasa seperti kita mengira bahwa kejujuran itu menghambat karir dan bisnis? Ah, mungkin kita mesti belajar lagi kepada anak-anak kita.
Tulisan ini sebenarnya sudah selesai. Tapi, saya mendapatkan kejutan lain dari Z. Dalam perjalanan kami ke masjid untuk sholat magrib, saya mengetes lagi tentang prinsip kejujurannya. “Bang, kamu kan tetep mesti bayar 50 krital untuk mendapatkan laser baru,” begitu saya bilang.
“Nggak kok. Aku kan beli ramdom package,” katany. “Aku dapat 3 konstum saya laser.” Anda tahu ? Harga lasernya sendiri sebenarnya sekitar 200 kristal. Z justru untung banyak. Dan kejutan itu muncul ketika dia mengatakan ini:
“Lagian yang 50 krital juga aku dapatnya dari orang lain…” katanya.
“Dapat dari orang lain gimana?” Maklum, saya sendiri bukan gamer. Jadi nggak terlalu paham secara mendetail permainan itu.
“Aku kan waktu itu login, terus ada orang yang ‘donate’. Ya udah aku terima aja terus aku bilang thank you.” Katanya. Saya jadi semakin penasaran. “Terus aku kerjain benda yang didonetin itu. Aku jadinya dapat kristal.”
“Abang dapat berapa kristal dari donate itu?”
“Berapa ya? Emmmh… berapa ratus gitu.”
“WHAT?” Saya kaget karena menurut Z tabungan kristalnya bertambah lebih dari 300. Bahkan ketika digunakan untuk membeli random package 50 kristal pun tabungannya selama ini tidak berkurang.
Saya bertakbir dalam hati. Bukan hanya karena anak saya mendapatkan pengganti yang jauuuh lebih baik daripada kecurian ‘akibat’ kejujurannya. Toh itu hanya sekedar permainan. Hati saya tergetar lebih karena merasa bahwa Tuhan mengisyaratkan bahwa; kejujuran, tidak pernah menghalangi kita dari keberhasilan. Bukan kerugian yang ditimbulkan oleh kejujuran. Melainkan kebaikan dan keberkahan.
Harta kita, jika didapatkan melalui kejujuran; bukan saja berharga. Melainkan bernilai mulia. Harta yang berkah itu, hanya mendorong kita untuk menggunakannya dalam kebaikan. Bukan untuk membeli atau membayar keburukan. Dan ketika harta berkah itu kita makan, akan menghasilkan tubuh yang berisi jiwa-jiwa yang bersih. Yaitu jiwa yang dihidupi dengan nafkah yang bersih. Dan jiwa, yang menghasilkan nafkah yang juga bersih. Insya Allah.
Catatan kaki:
Kalau dengan memegang teguh kejujuran karir tidak berkembang, berarti kita belum tahu cara mengembangkan karir yang betul itu seperti apa. Kalau dengan berkomitmen pada kejujuran bisnis kita tidak berkembang, berarti kita belum paham bagaimana cara menjalankan bisnis yang bener itu seperti apa.

Artikel
 
 

0 Comments

You can be the first one to leave a comment.

 
 

Leave a Comment