Home / Artikel / Belajar untuk berempati

Belajar untuk berempati

 
Menghakimi orang lain itu gampang banget. Memahami apa yang mereka alami, itu yang sulit. Makanya, Alloh memberi kita kesulitan. Antara lain, agar kita bisa belajar empati.
 
Tengoklah misalnya, ketika ada orang yang melakukan suatu kesalahan. Betapa mudahnya kita menghujat orang itu. Minimal memberinya penilaian yang buruk. Tapi, jika kita pun pernah kepeleset pada kesalahan yang sama; maka kita tidak semudah itu menghakiminya.
 
Melihat pengangguran. Kita akan heran. Kenapa dia menganggur? Padahal pekerjaan banyak banget. Asal mau aja. Tapi bagi orang yang pernah Alloh uji dengan kehilangan pekerjaan. Lantas diujinya pula dengan penolakan demi penolakan. Tak akan mudah baginya memberi penilaian.
 
Ada orang terjerat hutang. Hingga hidupnya makin sulit. Diteror debt collector pula. Mudah bagi kita untuk mengatakan;”Makanya, berhutang harus sesuai kemampuan membayarnya! Berani ngutang kok gak mau bayar.”
 
Tapi jika pernah Alloh tempatkan pada posisi terpuruk. Kita akan paham bahwa roda kehidupan berputar. Ada kalanya diatas. Ada pula saatnya dibawah. Ketika jalan kehidupan sedang macet, kita berada dibawah lebih lama daripada diatas. Dan saat itulah kemampuan kita menurun secara drastis.
 
Orang yang pernah mengalami hal itu, jadi bisa lebih memahami apa yang dirasakan oleh orang lain yang saat ini sedang mengalaminya. Itulah saat dimana kita sampai pada maqom kebijaksanaan yang lebih tinggi.
 
Efeknya, kita tidak lagi mudah untuk menghakimi atau menilai buruk orang lain. Kalau pun memberi nasihat, maka nasihat yang kita berikan bukan lagi sekedar produk kecerdasan intelektual. Melainkan hasil dari menyelami lika liku kehidupan.
 
Oleh karena itu. Cobaan apapun yang saat ini sedang kita alami. Boleh jadi. Itu merupakan sarana yang Alloh sediakan agar kita bisa belajar empati. Jalan untuk menempa kita menjadi pribadi yang lebih dewasa. Lebih bijaksana.
 
Semakin berat cobaan ini, semakin kokoh fondasi empati yang terpancang dalam jiwa kita. Semakin paham pula kita pada makna kehidupan yang sesungguhnya. Dan insya Alloh, semakin dekaaat kita dengan Alloh ta’ala. Semakin khusyuk kita, dalam bermunajat kepadanya.
 
Jadi, selama kita tetap menjaga perilaku agar tetap sejalan dengan tuntunan Alloh. Selama kita terus mengingat Alloh. Selama kita tak henti mendekatkan diri kepada Ilahi. Maka kesulitan apapun yang tengah merundung hidup kita, itu bukanlah siksaan. Melainkan ujian dari Alloh. Untuk menaikkan kelas kita. Ke maqom insani yang lebih tinggi.
 
So, let’s hang on my friend. Insya Alloh pertolongan itu dekat. Mari kita sama-sama semakin gencar memohon kepadanya. Bertaqorrub kepadanya. Sebagaimana Alloh perintahkan dalam surah Al-Baqoroh ayat 153. Dengan apa memohonnya? ”Bishobri. Wassholaaah….” Bismillah.
Salam hormat.
Mari Berbagi Semangat!
DEKA – Dadang Kadarusman

Artikel
 
 

0 Comments

You can be the first one to leave a comment.

 
 

Leave a Comment