Home / Artikel / Bekerja itu Melayani bukan Berapa yang dibayar

Bekerja itu Melayani bukan Berapa yang dibayar

 

“Emangnya kamu dibayar berapa? Kok kerja sampai kayak gitu?” Anda pernah mendengar pertanyaan seperti itu tidak? Pernahlah ya. Minimal, sekarang ini. Tapi, ini sebenarnya kalimat yang sering dipakai dikalangan kita. Ada yang terucap langsung berupa kata-kata yang bisa didengar telinga. Ada juga yang berupa bisikan hati, ketika kita sedang BT ditempat kerja. Lalu, wajar nggak sih kita menggugat begitu?

Bagi saya pribadi, pertanyaan itu menjebak kita kepada anggapan bahwa pekerjaan itu semata-mata hanya soal bayaran. Tidak ada yang bisa memungkiri pernyataan saya ini. Pertanyaan “Emang elo dibayar berapa?” itu tema sentralnya ya ‘bayaran’ kan. Padahal tidak.

Bahaya loh, kalau seseorang mikir pekerjaan ini hanya menyangkut soal bayaran. Kualitas kerja yang dilakukannya akan dibatasi dengan uang yang diterimanya. Kalau uangnya banyak, mau dia kerja banyak. Kalau uangnya sedikit? Forget it.

“Bekerja itu melayani.” Coba masukkan prinsip tersebut kedalam hati sanubari Anda. Ketika jiwa Anda paham bahwa bekerja itu melayani, maka uang; sudah bukan lagi komandan tertinggi Anda. Waktu juga, tidak tidak akan membatasi Anda. Anda akan bekerja sekuat. Semampu. Sebisa Anda. Berapapun bayarannya. Karena, bagi Anda; bekerja itu adalah melayani.

Emangnya nggak boleh kalo ngarep bayaran?! Ih, boleh banget. Bayaran itu merupakan bagian dari kaidah profesionalisme. Bahwa seseorang yang bekerja layak mendapatkan bayaran yang pantas. Untuk fungsi, peran, jabatan, atau kontribusi yang diberikannya.

Dimana lagi letak wajarnya? Didalam ranah legalitas alias resmi. Bayaran resmi kita berapa? Ya itulah yang sewajarnya kita terima. Lebih, boleh? Kalau itu berkaitan dengan insentif atau bonus kinerja, boleh banget. Dan kita juga kan tahu bahwa hal itu, termasuk aspek yang secara resmi ditentukan oleh perusahaan.

Selaian itu, orang yang mikir bahwa kerja itu semata-mata soal bayaran juga biasanya susah bahagia dalam menjalani pekerjaannya. Kenapa? Karena, sifat dasar manusia itu merasa kurang. Dibayar berapapun ada saja kurangnya. Satu karena orang lain mungkin dibayar lebih banyak. Dan dua, karena dikejar-kejar oleh kebutuhan yang semakin membengkak.

Jadi, kudu pasrah saja sama keadaan? Iih, bukan. Pasrah mah pada Allah saja. Sedangkan keadaan mesti dihadapi dengan jiwa melayani yang lebih tinggi. Karena, orang-orang yang bekerja dengan jiwa melayani; biasanya pekerjaannya lebih baik dari yang gemar mengguggat ‘emang elo dibayar berape?!’.

Dan ternyata, orang-orang yang sukses dalam karirnya pada umumnya adalah orang-orang yang bekerja sepenuh hati seperti ini lho. Bukan orang yang menakar pekerjaan yang diberikannya semata-mata dengan bayaran yang diterimanya. Anda, termasuk kedalam kelompok mana?


Artikel
 
 

0 Comments

You can be the first one to leave a comment.

 
 

Leave a Comment