Home / Artikel / Bekerja Dengan Ikhlas

Bekerja Dengan Ikhlas

 
Ikhlas dalam bekerja? Kedengarannya kok seperti ceramah agama, sih! Beruntung sekali saya bukan ahli agama, sehingga apa yang akan kita bahas sekarang bukanlah soal agama, melainkan soal kehidupan kerja kita. Karenanya, terlepas dari apapun agama dan keyakinan Anda; maka urusan bekerja dengan ikhlas ini mungkin berkaitan langsung dengan hidup Anda. Mengapa demikian? Karena dengan keikhlasan itu, kita bisa sampai kepada pencapaian tertinggi dalam pekerjaan yang kita tekuni sehari-hari.
 
Banyak orang yang mengira jika ikhlas itu berarti tidak mengharapkan imbalan apapun. Faktanya tidaklah demikian. Ikhlas itu tidak ada sangkut pautnya dengan imbalan. Karena ikhlas menitik beratkan kepada penerimaan. Bukan hanya penerimaan material, melainkan penerimaan hati nurani terhadap apapun yang terjadi pada dirinya sendiri. Dengan ikhlas itu kita bisa menemukan makna dari setiap kejadian tanpa harus tersiksa oleh perasaan yang bergemuruh didalam dada. Mengapa? Karena dengan keikhlasan itu kita bisa merelakan semuanya, sehingga kejadian paling menyakitkan pun pengaruh buruknya bisa dengan mudah dihilangkan. Kita, jadi tidak mudah terpengaruh. Lalu segera bangkit dan bergerak lagi.
 
Contoh aktualnya saja. Kita menginginkan tempat kerja yang menyenangkan. Faktanya, di kantor kita; tidak semua hal memenuhi apa yang kita inginkan itu. Boleh saja jika kita berharap mendapatkan bayaran yang tinggi, tetapi belum tentu kantor memenuhi harapan itu. Kita ingin mendapatkan promosi, namun setelah bertahun-tahunpun bisa saja kesempatan itu tidak kunjung datang. Kita mau punya rekan kerja yang solider dan kompak, namun mungkin saja diantara mereka ada yang doyan sikut-sikutan dan berebut mencari muka pengambil keputusan. Kita juga ingin punya atasan yang pengertian, tetapi boleh jadi malah mereka memperlakukan kita seenaknya saja.
 
Hidup kita, tidak selalu sesuai dengan apa yang kita harapkan. Begitulah kenyataannya. Padahal, setiap kejadian yang tidak sesuai dengan harapan selalu berpotensi untuk menimbulkan kekecewaan. Misalnya saja; kita berharap kenaikan gaji bisa double digit. Maka sebelum surat kenaikan itu kita terima pun kita sudah mereka-reka; kira-kira akan naik segini, sehingga take home pay kita akan menjadi segono. Wajar dong, karena – menurut kita – prestasi kerja kita tahun lalu bagus sekali. Tapi begitu surat resmi soal kenaikan gaji itu kita terima, eh…ternyata jauh lebih rendah dari yang kita harapkan. Tidak merasa kecewa? Sulit, jika kita sudah punya harapan yang tinggi sebelumnya.
 
Apa yang akan terjadi jika kita tidak ikhlas menerima keadaan itu? Kita bakal menggerutu. “Gue sudah kerja keras begini, eh kenaikan gaji gue cuman secemen ini!” Sayangnya, tidak ada gerutuan yang menghasilkan energy positif. Setiap gerutuan selalu disertai dengan energy negatif sehingga setiap kali menggerutu, kita memasukkan sejumlah tertentu keburukan kedalam kalbu. Semakin lama, semakin banyak energy nergatif itu, sehingga; semakin mudah juga kita menggerutu bahkan terhadap hal-hal yang sepele sekalipun. Mungkinkah kita bekerja lebih baik disaat kita senang menggerutu? Tidak. Kualitas kerja kita tentu akan memburuk.
 
Beda sekali dengan orang yang ikhlas. Didalam hatinya penuh dengan penerimaan. Apapun yang terjadi kepada dirinya diterima dengan lapang dada. Ketika perusahaan membuat kebijakan yang tidak sejalan dengan keinginannya, dia tetap tenang. Ketika atasannya berperilaku sok seenaknya, dia masih bisa bersabar. Ketika teman-temannya bersaing secara tidak sehat, dia terus mampu tersenyum. Karena dia memiliki kemampuan untuk menerima keadaan itu dengan keikhlasan yang paling dalam. Mungkinkah kita bekerja lebih baik disaat kita ikhlas menerima keadaan? Tentu. Sebab didalam hati kita, tidak ada sedikit pun ganjalan yang menghalangi untuk melakukan sesuatu dengan yang terbaik yang kita bisa.
 
Makanya, orang ikhlas selalu bisa bertumbuh kembang. Ditempat, atau dalam situasi apapun yang dihadapinya. Sebab dia percaya, bahwa ketidaknyamanan yang dialaminya tidak lebih dari sekedar ujian untuk mengukur; seberapa gigih dia, dalam usahanya untuk menunjukkan kualitas pribadi yang sesungguhnya. Apapun yang terjadi, dia berusaha untuk menampilkan diri dengan sebaik-baiknya. Karena dia percaya, bahwa Tuhan; telah menciptakan dirinya melalui proses penciptaan yang sempurna.
 
Semua yang dilakukannya di tempat kerja, adalah bagian dari rasa syukurnya kepada Sang Pencipta. Sehingga dia menangani perkerjaannya dengan sepenuh kesungguhan. Dengan cara itu, dia bisa menunjukkan kepada dunia; tentang betapa Tuhan telah menciptakan dirinya dengan kesempurnaan yang tiada bandingan. Sehingga dalam situasi buruk pun, ‘seseorang’ yang telah Tuhan ciptakan dengan sempurna ini bisa berkarya hingga di puncak kapasitas dirinya. Begitulah cara  seorang pribadi yang ikhlas membuat pencapaian tinggi dalam hidupnya. Sudah ikhlaskah Anda dalam bekerja?
Salam hormat.
Mari Berbagi Semangat!
DEKA – Dadang Kadarusman
Change Matter Learning Partner.
 

Artikel
 
 

0 Comments

You can be the first one to leave a comment.

 
 

Leave a Comment