Home / Artikel / Beda Perlakuan

Beda Perlakuan

 

Profesi ini memberi saya kesempatan untuk bertemu dengan banyak karyawan dari berbagai perusahaan. Cerita mereka, sangat menarik. Salah satunya tentang beda perlakuan yang mereka rasakan.

Kita tidak bisa memungkiri hal itu. Faktanya, memang sering terjadi. Tapi. Saya mengajak teman-teman itu untuk memahami bahwa kita memang butuh perlakuan yang berbeda. Lho kok gitu?

Begini. Kita tidak selalu bisa menghindari pengambil keputusan yang diskriminatif. Bahkan kita butuh mereka. Kenapa? Karena diskriminasi merupakan salah satu fondasi dalam pengambilan keputusan.

Kalau ada 2 opsi, misalnya. Keputusan hanya bisa diambil secara fair jika ada faktor ‘diskriminan’. Jadi malah positif. Yang menjadikan beda perlakuan itu negatif buat kita adalah; ketika kita tidak mampu memiliki faktor diskriminan yang bernilai bagi sang pengambil keputusan.

Jadi. Dalam kebanyakan situasi. Bukan atasan atau perusahaan itu sumber masalahnya. Tapi kita. Kalau kitanya ‘bernilai’ buat mereka, maka mereka akan mengambil sikap yang berbeda. Mereka akan mengistimewakan kita dibandingkan dengan kolega lainnya.

Jujur saja deh. Anda kecewa pada beda perlakuan itu karena Anda berada di posisi tidak enaknya kan? Kalau Anda ada di posisi enaknya? Ehm… senenglah tentu saja.

Perhatikan, betapa relatifnya makna beda perlakuan kan? Dalam konteks pekerjaan, itu memang dibutuhkan. Karyawan yang unggul, memang harus diberi perlakuan yang berbeda dari kerumunan lainnya.

Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dikisahkan bahwa suatu hari Ummul Mu’mini A’isyah didatangi oleh seorang pengemis. Maka diberinya roti dan kurma. Lalu pengemis itu pergi.

Tak lama setelah itu, datang pengemis lain. Yang lebih sopan dan lebih baik perangainya. Maka A’isyah mempersilakannya duduk. Lalu memberi makan.

Setelah pengemis itu pergi, A’isyah pun ditanya; mengapa membedakan perlakuan kepada mereka?

Lalu A’isyah berkata;”Aku mendengar Rasulullah menasihatkan agar menempatkan orang sesuai dengan kedudukannya.”

Jadi. Kita sudah mesti memahami bahwa perbedaan perlakuan itu memang fitrah manusia. Kenapa Anda bisa menikah? Karena cewek yang Anda incer itu menilai Anda berbeda dari cowok-cowok lainnya yang ngedeketin dia kan? Cewek itu memperlakukan Anda secara berbeda.

Makna menempatkan orang sesuai kedudukannya dalam hadis diatas, tidak merujuk kepada status sosial loh. Orang terpandang dimuliakan. Rakyat biasa dihinakan. Bukan demikian. Kedua tamu Ummul Mu’minin itu sama-sama pengemis kan? Setara secara status sosial. Tapi ‘kualitas pribadinya’ yang berbeda itulah yang membedakan kedudukan keduanya.

Di kantor, Anda dengan kolega itu setara. Maka apa yang akan membedakan kedudukan Anda dari mereka yang levelnya sama itu? Perangai. Attitude kalau istilah umumnya. Lalu apa? Perilaku. Behavior, kita biasa menyebutnya. Lantas? Keterampilan kerja dong pastinya. Skill, nama kerennya. Itulah antara lain aspek-aspek penting yang akan menentukan kedudukan Anda di mata atasan dan para pengambil keputusan.

Boss gue lain Dang. Dia itu pake prinsip like and dislike!

Maka saran saya; temukan faktor diskriminan yang membuat boss Anda like. Lalu asah kemampuan Anda agar bisa menguasainya. Maka Anda bakal dijaganya.

Gimana kalau ‘like’-nya negatif? Kan ada juga orang yang begitu ya. Melanggar integritas atau nilai-nilai moral, misalnya.

Ada dua pilihan. Satu, bersabar karena belum tentu dia akan lama bersama Anda kan? Dua, bagusin diri Anda agar bisa mudah mengekspor diri ke departemen lain. Atau ke perusahaan lain. Dunia tidak sesempit daun kelor kan?

Takut? Ah. Kalau sudah dijalani mah, mungkin asyik-asyik aja. So. Be diferente my friend. Dengan membangun faktor diskriminan yang baik dalam diri Anda. Insya Allah. Perlakuan yang Anda dapatkan bakal berbeda. Dan. Hasilnya pun, bakal berbeda pula.


Artikel
 
 

0 Comments

You can be the first one to leave a comment.

 
 

Leave a Comment