Home / Artikel / Badai Kehidupan

Badai Kehidupan

 

Hidup, tidak selamanya indah. Kadang badai datang berupa ujian dan cobaan. Tidak sedikit orang yang tak sanggup lagi menghadapinya. Lalu tumbang. Tapi, kenapa ada orang yang begitu tangguhnya menghadapi badai kehidupan?

Beberapa hari lalu gadis kecil saya menceritakan sebuah kisah. Saya ceritakan lagi buat Anda ya, agar sama-sama dapat hikmahnya.

Ada seorang saudagar yang memiliki ladang. Ladang itu subur sekali. Tanaman apapun tumbuh. Dan hewan ternak bisa berkembang biak dengan baik.

Sekalipun demikian, saudagar itu memberikan kebebasan kepada siapapun untuk beternak dan bercocok tanam di ladangnya. Tanpa harus membayar sewa. Atau membagi hasilnya. Pokoknya, siapa saja yang mau bekerja di ladang itu; boleh mengambil semua hasilnya.

Anehnya, tidak seorang pun mau menerima tawaran baiknya. Padahal, tanahnya gembur dan tak usah sewa pula. Kenapa ya? Rupanya, ladang itu sering dilanda badai yang memporakporandakan apa saja yang ada disana. Sehingga sia-sialah semua hasil kerja kerasnya. Makanya tak ada yang mau bercocok tanam disana.

Suatu hari, seseorang mendatangi saudagar itu. Dia bilang, mau menggarap tanahnya. “Tapi tahukah kamu bahwa ada badai yang bisa merusak ladangmu setiap saat?” Demikian sang saudagar bertanya.

“Tenang saja tuan,” jawab orang itu. “Saya masih bisa tidur nyenyak kok walaupun sedang ada badai…” katanya. Meskipun jawabannya tidak nyambung, tapi ‘Sudahlah, yang penting dia mau bekerja,’ begitu pikir sang saudagar. Maka orang itu pun mulai menata ladangnya.

Setengah dari hasil yang diperolehnya akan diberikan kepada sang saudagar sebagai tanda terimakasihnya. Namun saudagar itu menolak karena tidak membutuhkannya. Akhirnya mereka sepakat untuk memberikan bagiannya kepada masyarakat sekitar.

Para penduduk pun diberitahu kalau kelak mereka akan mendapatkan setengah dari hasilnya. Mereka tentu senang. Tapi, tidak mau membantunya. Karena mereka ragu; akankah badai menghabiskan semuanya?

Beberapa waktu kemudian, tanamannya sudah siap panen. Dan daging ternak, sudah siap untuk disantap. Besok pagi, panen akan dimulai. Maka penduduk setempat pun berharap kebagian hasilnya. Namun, malang tak dapat ditolak. Malam harinya, badai itu datang lagi.

Awalnya, para penduduk hanya merasa iba pada orang yang sudah bekerja keras itu. Mereka membicarakannya sambil minum kopi di kampung yang aman dari badai. Tapi, kemudian mereka ingat bahwa setengah dari hasilnya akan menjadi miliknya. Maka seketika itu juga rasa iba berubah menjadi takut rugi.

Mereka pun segera berlari ke gubuk orang itu. Sesampainya disana, mereka mendapatinya sedang tidur nyenyak. Padahal diluar, badai sedang mengamuk. “Cepat bangun,” kata mereka. “Selamatkan ternak dan ladangmu dari amukan badai!”

Diluar dugaan, orang itu malah santai saja. Lalu tidur lagi dengan pulasnya. Para penduduk pun tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Hanya bisa menunggu didalam gubuk untuk berlindung dari amukan badai yang ganas itu.

Keesokan paginya, orang itu bangun. Lalu bersiap untuk ke ladang lagi. Sikapnya yang tenang membuat mereka heran. Kok ada orang yang tenang saja walau pun badai menghancurkan semua hasil kerja kerasnya. Lalu mereka pun mengikutinya ke ladang.

Sesampainya di ladang, mereka kaget. Tidak ada tanaman yang rusak. Dan tak ada pula ternak yang mati. Padahal, semalam badai mengamuk sedemikian hebatnya.

Sekarang, mereka paham mengapa orang itu tetap tenang. Ternyata, sebelum badai itu datang; dia sudah mempersiapkan segala sesuatunya. Tanaman diikat kuat. Dan ditutupi ranting yang kokoh. Semua hewan ternak, dimasukkan kedalam kandang yang hangat. Sehingga ketika badai itu datang, tidak terjadi kerusakan apapun.


Artikel
 
 

0 Comments

You can be the first one to leave a comment.

 
 

Leave a Comment