Home / Artikel / Aspek Paling Kritis Dalam KSA

Aspek Paling Kritis Dalam KSA

 
Anda sudah tahu KSA. Saya yakin itu. Knowledege, Skill, Attitude. Semua orang juga tahu. Tapi tahukah Anda aspek apa yang paling penting? Tahulah. Attitude kan? Juga sudah diketahui oleh semua orang. Lalu. Aspek mana yang paling banyak Anda asah?
Logikanya, kita mengalokasikan waktu dan sumberdaya lebih banyak untuk mengasah dan mengembangkan hal paling penting kan? Apa yang paling penting tadi? Attitude. Lalu sudahkah Anda mengutamakan melatih, mengasah dan membangun attitude melampaui aspek K dan S?
Para ahli menejmen pun mengakui jika hal itu tidak terjadi. Kita percaya bahwa attitude atau sikap merupakan aspek paling kritis melampaui K dan S. Tapi faktanya, perusahaan lebih banyak mengeluarkan uang untuk membangun K dan S. Bukan A.
Kenapa? Karena perusahaan ingin hasil yang instant. Kursus hal-hal teknis (Skill) dan menambah wawasan (Knowledge) itu bisa segera kelihatan hasilnya. Sales naik. Produktivitas bertambah. Dalam waktu singkat, ROI langsung kelihatan menjanjikan.
Tapi mendidik aspek Attitude karyawan? Entah kapan ada hasilnya. Maka sekalipun dianggap paling kritis, soal pendidikan sikap ini sering dipandang sebelah mata. Padahal kita percaya bahwa Attitude lebih penting dari K dan S.
Para pendidik hebat, menyadarinya. Namun mereka pun mengakui bahwa hal itu sangat beresiko. Bisa dimusuhi orang tua murid. Tidak terpakai oleh perusahaan. Bahkan disebelin anak didik.
Mereka juga mengakui bahwa itu sulit. “Kami bisa mengajarkan matematika hanya dalam waktu 3 bulan. Tapi kami, membutuhkan waktu 12 tahun untuk menanamkan sikap yang baik.” Demikian mereka menyatakan.
Lalu, bagaimana dong supaya kita bisa memiliki attitude yang solid? Jangan ngarep kepada pihak lain. Mesti mendorong diri sendiri memperbaiki sikap. Setuju? Setuju. Begitu logika mengatakan. Tapi perilaku aktual kita, tidak selalu demikian.
Contoh. Kita selalu bisa menyadari jika kurang pengetahuan kan? Tidak tersinggung juga kalau ada orang yang memberitahu hal itu. Malah kita terdorong untuk ‘menambah’ pengetahuan. Senang hati kita melakukannya.
Kita juga nggak keberatan kalau ada yang bilang harus latihan lagi biar lebih jago melakukan sesuatu. Nggak sakit hati kalau ada yang mengatakan kita kurang terampil. Kalau orang itu benar, kita jadi giat berlatih lagi supaya makin terampil. Dan kalau orang itu salah, kita juga gigih berlatih untuk menunjukkan bahwa dia; salah menilai.
Bagaimana seandainya ada orang yang memberi masukan tentang sikap kita? Ohohoho… ntar dulu. Ini sudah menjadi bagian dari diri saya sejak lahir. Dari dulu saya emang begini. What’s wrong with my attitude? Selama ini juga hidup saya baik-baik aja kok!
Begitu kan biasanya kita merespon? Itulah sebabnya, kenapa kita sangat sulit mengubah attitude. Jika umur kita 30 tahun, misalnya. Maka kita sudah hidup bersamanya selama 30 tahun. Kita sudah merasa nyaman dengannya. Sehingga keberatan kalau mesti berubah. Gue memang begini. So what?!
Soal knowledge, gampang untuk nyadar jika ada kekurangan. Begitu juga dengan skill. Bila dikritik juga nggak malu-maluin. Tapi soal attitude? Bbeuh… kalau dikritik rasanya seperti dipermalukan. Makanya, kita paling sebel sama orang yang sok usil ngusik-ngusik sikap kita.
Anda boleh menyangkalnya jika tidak demikian. Namun sejauh yang saya rasakan, baik atau tidaknya attitude kita itu lebih valid jika yang menilainya orang lain. Bukan kita sendiri. Sebab attitude, kerasa banget perannya ketika kita berinteraksi dengan orang lain. Iya kan?
Catatan kaki:
Salah satu alasan mengapa sulit untuk mengubah sikap adalah karena kita sudah melekat dengan sikap itu seumur hidup kita. Sehingga kita merasa sikap kita adalah diri kita. Padahal, sikap kita itu hanya aspek yang kita pilih dari serangkaian sikap lainnya yang sebenarnya kita bisa adopsi. Seperti sikap baru, yang belum kita miliki itu.
 

Artikel
 
 

0 Comments

You can be the first one to leave a comment.

 
 

Leave a Comment