Home / Artikel / Asal Muasal Mandat Kepemimpinan

Asal Muasal Mandat Kepemimpinan

 

Tahukah Anda, kenapa akhir-akhir ini banyak sekali muncul ketidakpuasan terhadap kinerja pimpinan? Dikantor, banyak anak buah yang kecewa kepada atasannya. Dan diberbagai pelosok negeri, rakyat jelata banyak yang kecewa kepada para pamong praja. Dalam pengamatan saya, hal itu ada kaitannya dengan cara mereka mendapatkan mandat kepemimpinan itu.

Zaman dahulu kala, cara orang mendapat mandat kepemimpinan itu berbeda dengan sekarang. Bukan rahasia lagi jika sekarang kita bisa membeli mandat. Punya uang banyak, maka bisa menjadi pemimpin. Karena sifat alami pemilik uang adalah akrab dengan prinsip ekonomi, maka sang pembeli mandat terikat pada kebutuhan untuk mengembalikan modal plus keuntungannya sekalian. Makanya, tidak heran jika kepentingan orang-orang yang dipimpinnya bukan merupakan prioritas utamanya.

Di zaman ketika nilai-nilai kemanusiaan masih terjaga dengan baik, mandat kepemimpinan hanya diberikan kepada orang yang bisa memberi manfaat paling banyak buat masyarakat. Misalnya, ketika manusia masih hidup dengan cara berburu. Orang yang paling pandai berburu hingga bisa memberi makan kepada orang-orang dikampungnya; dialah yang mendapatkan mandat itu.

Ketika manusia masih hidup secara nomaden. Mandat kepemimpinan diberikan kepada orang yang paling pandai menemukan tempat baru untuk tinggal lebih baik. Dan ketika kita sudah biasa menetap, orang yang paling pandai bercocok tanamlah yang diberi mandat menjadi pemimpinnya.

Jadi dimasa lalu, kepemimpinan berhubungan langsung dengan pelayanan. Siapa yang terbukti paling mampu melayani banyak orang, dialah yang mendapat mandat menjadi pemimpin kaumnya. Maka otomatis ketika menjadi pemimpin pun orang itu bisa menjadikan kehidupan rakyatnya lebih baik. Kenapa? Karena sebelum mendapatkan mandat itu, dia sudah terbiasa melayani masyarakat.

Selama lebih suka memberikan mandat kepemimpinan itu berdasarkan janji-janji yang belum teruji, maka jangan kaget jika hasilnya selalu mengecewakan. Karena, konon hanya merpati yang tidak pernah ingkar janji. Adapun manusia? Jangankan janji kepada sesama manusia. Janji kepada Tuhan saja sudah banyak yang dilanggar, bukan?

Jadi, bagaimana dong supaya kita tidak keliru lagi memberikan mandat kepemimpinan kepada orang yang tidak tepat? Dalam konteks dunia kerja, kita tidak memberi mandat itu. Justru, kitalah yang mesti belajar menunjukkan kinerja baik ditambah dengan keterampilan koordinasi serta inisiatif bekerja dalam team yang solid. Itu cara kita belajar menjadi perekat utama dalam unit kerja kita. Syukur-sykur jika dapat promosi, kan. Jika tidak pun, kita tetap paham bagaimana menjaga kinerja team itu. Kalau tidak menjadi pemimpin de jure, maka kita bisa menjadi pemimpin de facto. Itu, baik buat team kita. Dan baik pula buat masa depan kita.

Dalam konteks bermasyarakat, sederhana saja. Berikan mandat hanya kepada orang-orang yang terbukti peduli kepada nasib rakyat. Terbukti banyak berkarya buat masyarakat. Dan terbukti rela membaktikan diri demi kepentingan khalayak. Anda sudah menemukan orang yang seperti itu? Mungkin tidak. Karena orang yang memenuhi kriteria itu, biasanya tidak meminta mandat. Dan dia, akan tetap berbuat. Terlepas dari dapat apa tidaknya mandat. Anda, sudah memiliki sifat seperti itu? Semoga.

Catatan kaki:
Orang yang meminta, adalah orang yang kekurangan. Ketika seseorang meminta jabatan, dia bukan orang yang tepat untuk jabatan itu. Tapi jika seseorang membiasakan diri bertindak, mungkin dia sudah memiliki keberlimpahan. Maka bila menjabat, dia tidak butuh apa-apa lagi bagi dirinya sendiri. Sehingga dia bisa membaktikan diri, sesuai jabatannya.
 
Silakan teruskan kepada orang lain jika Anda nilai artikel ini bermanfaat. Dan tetaplah mengingat bahwa; Anda tidak perlu mengklaim sesuatu yang bukan karya tulis Anda sendiri. Meskipun Anda sudah berbuat baik, namun Tuhan; belum tentu suka tindakan itu (Natin & The Cubicle).
Salam hormat,
Mari Berbagi Semangat!
DEKA – Dadang Kadarusman

Artikel
 
 

0 Comments

You can be the first one to leave a comment.

 
 

Leave a Comment