Home / Artikel / Apakah Dirsupsi Itu Mahluk Baru?

Apakah Dirsupsi Itu Mahluk Baru?

 
Dimana-mana, orang bicara soal disrupsi. Maklum, namanya juga zaman gegar informasi. Dengan tekno IT, topik yang mengusik kepentingan publik gampang jadi trending.
 
Kegusaran yang ditimbulkannya bukan hanya di level individu, melainkan juga di tingkat perusahaan. Bahkan negara dan kawasan. Tapi, apakah disrupsi itu mahluk baru dalam kehidupan umat manusia?
 
Coba ingat, kapan pertama kali mendengar kata disrupsi? Baru-baru ini?
 
Padahal, disrupsi sudah menjadi bagian kehidupan manusia sejak berabad lamanya. Khususnya ketika dasar-dasar sains timur tengah ‘bersentuhan’ dengan dunia barat. Matematika, fisika, kimia, kedokteran dan  ilmu falak telah membuka pintu menuju modernisasi.
 
Dengan modernisasi itu, segala hal yang ‘manual’ dan melelahkan perlahan-lahan digantikan oleh ‘otomasi’ dan peralatan yang dirancang untuk memudahkan urusan manusia. Sehingga makin efisien, makin cepat, makin ringkas.
 
Lalu kenapa kita baru gegap gempita sekarang? Karena kita tidak menyadari bahwa disrupsi itu merupakan proses alamiah. Kita belum rela menerimanya. Itu pertama.
 
Kedua, karena kita merasa terancam kehilangan kenikmatan. Walaupun kita tahu bahwa disrupsi memungkinkan manusia menuju perbaikan dalam berbagai bidang kehidupan. Tapi kita takut perbaikan itu akan merenggut kenikmatan yang ada sekarang.
 
Ketiga. Kita nggak punya cukup persiapan untuk menghadapinya.
 
Maka menerima dengan lapang dada disrupsi sebagai proses alamiah evolusi kualitas hidup manusia, akan membantu melepaskan beban emosional kita. Jangan dilawan. Karena tak satu orang, perusahaan, bahkan negara sekalipun yang bisa melawan peristiwa alamiah ini.
 
Deal with it. Maka kita akan lebih tenang. Soal pertama tadi sudah bisa teratasi.
 
Soal kedua, bagaimana mengatasinya? Dengan menambah pemahaman bahwa disrupsi, tidak secara spesifik mengejar Anda. Disrupsi, tidak memilih orang untuk dijadikan korban. Disrupsi, tidak mencari orang untuk diistimewakan. Disrupsi, tidak diskriminatif. Disrupsi, membuka kesempatan bagi semua orang.
 
Yang menjadikannya ribet justru adalah perlawanan kita. Penolakan dan permusuhan kita. Sadarkah Anda bahwa mobil yang Anda kendarai, pesawat yang Anda tumpangi, tivi yang Anda tatapi itu merupakan buah dari disrupsi?
 
Semakin kuat menolak, semakin berat memikul bebannya. Penerapan e-money di pintu toll, misalnya. Pengguna jalan tol yang menolaknya, hanya akan menimbulkan masalah berupa antrian panjang dan terbakarnya emosi pengguna lain. Padahal sudah sejak puluhan tahun pula kita tidak menerima gaji dalam bentuk cash lagi. Everything malah even better cashless.
 
Soal ketiga, diatasi dengan beradaptasi. Simak kearah mana dunia ini bergerak. Dunia bisnis, bergeser ke mana. Ikuti iramanya.
 
Loh. Bukankah itu berarti hanya mengikuti arus saja Dang?!
 
Jika tujuan kita adalah untuk meraih keselarasan hidup – bukan menyia-nyiakan hidup untuk melawan sesuatu yang tidak bisa kita kalahkan – Maka mengikuti arus adalah the smartest pilihan. Mengalahkan? Atau mengarahkan?
 
Anda bisa ‘mengalahkan’ arus disrupsi? Jika bisa silakan. Tapi. Bisakah Anda ‘mengarahkan’ proses disrupsi? Bisa loh. Asal Anda berkarya dengan ide dan gagasan yang relevan. Bukan melawan dengan penolakan dan keberpihakkan pada zona nyaman.
 
Lihat orang atau perusahaan yang merespon positif disrupsi. Mereka menggeliat. Berkarya. Berlari bersama pergeseran yang ditimbulkan arus disrupsi. Lalu apa yang mereka dapat?
 
Bisnisnya berubah, tapi survive. Asetnya dilepas, tapi lebih lincah. Tidak lagi beli-beli melulu, tapi hutangnya berkurang. Dan yang lebih esensial lagi, mereka tidak stres akibat penyangkalan pikir dan rasanya.
 
Karena mereka tahu bahwa disrupsi; hanyalah bagian dari proses alami. Dimana cepat atau lambat; pasti terjadi.

Artikel
 
 

0 Comments

You can be the first one to leave a comment.

 
 

Leave a Comment