Home / Artikel / Apa Yang Kita Pelajari Dari Pekerjaan?

Apa Yang Kita Pelajari Dari Pekerjaan?

 
Dalam sebuah wawancara kerja sang pelamar ditanya; “Mengapa saya harus memberikan pekerjaan ini kepada Anda?” Lalu dia menjawab;”Karena saya mempunyai pengalaman selama 10 tahun dalam bidang yang sama.”
“Baiklah. Bisa Anda ceritakan apa kelebihan Anda dengan pengalaman 10 tahun itu?” Lanjut sang pewawancara. Lalu, orang itu berkata;”Setiap hari saya masuk kerja pak….”
Jika Anda mewawancarai orang seperti itu, apakah Anda akan memberikan pekerjaan itu kepadanya? Kemungkinan besar tidak, ya. Kenapa? Karena posisi atau fungsi-fungsi penting di perusahaan, butuh orang-orang yang lebih dari sekedar bisa hadir ditempat kerja.
Cerita itu hanya rekaan belaka. Saya akui itu. Tapi, bukankah hal itu merefleksikan kehidupan para pekerja pada umumnya? Bukan dalam konteks wawancaranya. Tapi dalam hal kehadirannya di kantor. Banyak orang yang berprinsip ‘yang penting masuk kerja’.
Setiap hari masuk kerja, so what?Alasannya memang masuk akal. Gajinya cuman segini. Kerjaan sudah selesai kok. Lagi nggak ada proyek. Orang lain juga begitu. Boss gue juga kelakuannya sama. Emang nyari apa sih? Biasa aja kalee… dan sebagainya. Logis. Tapi, merugikan diri sendiri.
Lho, kok bisa? Iya. Karena dengan sikap seperti itu, maka kita tidak akan mendapatkan apapun dari pekerjaan itu selain gaji dan bonus fulus saja. Yang tentunya, bakal segera menguap kemana-mana begitu kita terima.
Memangnya apa lagi yang bisa kita dapatkan selain bayaran? Banyak. Salah satu yang terpenting adalah ilmu atau pengalaman berupa keterampilan yang berharga. Padahal, ilmu dan keterampilan itulah yang bakal lebih lestari. Dan bisa kita bawa kemana-mana.
Coba tengok disekitar Anda. Adakah orang yang masih bisa berdaya diri ketika tidak berstatus sebagai pekerja lagi? Ada. Dan adakah orang yang tidak bisa berbuat apa-apa begitu dia kehilangan pekerjaannya, baik karena umur maupun karena sebab lainnya? Like the end of the world. Oooo bejibun banget jumlahnya.
Whyyyyy? Karena hanya sedikit orang yang memanfaatkan masa kerjanya sebagai kesempatan untuk menabung ilmu dan pengalaman sehingga kelak bisa menjadi penopang kehidupannya. Dan kebanyakan orang lainnya, menjalaninya tidak lebih dari sekedar rutinitas dengan prinsip ‘sekedar setor muka’.
Lalu, bagaimana caranya memanfaatkan masa kerja itu sebagai tabungan ilmu? Yang pertama, tentu berupa catatan prestasi yang bagus. Anda bikin deh perusahaan merasa beruntung mempekerjakan Anda. Artinya, Anda menjadi pekerja yang luar biasa bagusnya buat perusahaan itu.
Kedua, kuasailah pekerjaan itu sehingga menjadi keahlian. Begitu Anda ahli, prestasi Anda bertambah dan nilai Anda meningkat. Daaan, keahlian itu akan menjadi penopang hidup kelak ketika Anda sudah tidak lagi bekerja disana.
Ketiga, pelajarilah bidang-bidang yang bisa Anda terapkan dalam skala kecil kehidupan Anda. Kantor Anda kan besar. Modalnya juga selangit. Pengalaman apa yang bisa Anda terapkan jika kelak Anda harus menggunakan sumber daya sendiri yang serba terbatas?
Contoh. Ada orang yang bekerja di pabrik. Bagusnya kalau pensiun nanti bikin pabrik aja, kan. Pake modal dari hongkong? Mempelajari aspek penting yang bisa diterapkan dalam skala kecil perorangan, memungkinkan kita untuk tidak terlalu bergantung pada orang lain; kelak. Insya Allah. Aamiin.
Hari ini Anda masuk kerja? Bagus. Tolong pastikan bahwa kehadiran Anda dikantor itu bukan sekedar setor muka. Kalau tidak ingin bernasib sama dengan orang yang melamar kerja diatas. Meskipun Anda tidak tertarik untuk melamar kerja ke perusahaan lain, tapi kelak; Anda harus ‘melamar kerja’ kepada diri sendiri kan?
Catatan kaki:
Kantor itu seperti sekolah. Bekerja disana, seperti mendapatkan beasiswa penuh untuk belajar ilmu dan pengalaman sebanyak yang kita inginkan.

Artikel
 
 

0 Comments

You can be the first one to leave a comment.

 
 

Leave a Comment