Home / Artikel / Apa Sih ‘Self-Reliant’ Itu?

Apa Sih ‘Self-Reliant’ Itu?

 
Anda, pasti pernah mendengar frase “Self-Reliant”. Seorang self-reliant ditandai dengan kemampuannya untuk mengandalkan diri sendiri. Artinya, tidak bergantung kepada orang lain untuk melakukan sesuatu yang penting. Kualitas ini, sangat mahal harganya. Jika dia seorang pimpinan, maka dia menjadi contoh bagi anak buahnya. Jika dia seorang anak buah, maka dia bisa diandalkan oleh atasannya.
Seorang Self-Reliant itu mempunyai tombol ‘start’ sendiri untuk memulai segala sesuatu. Dan dia, mempunyai ‘Generator’ sendiri untuk memasok energi agar bisa bertindak. Kebalikan orang self-reliant, adalah mereka yang pasif, menunggu perintah, ngarepin contoh, butuh dipelototin, atau harus diiming-imingi. Baru bergerak. Kalau nggak diperintah ya diem aja. Walaupun tahu bahwa ini waktunya bekerja. Kalau atasan belon dateng, mereka nyantai aja. Walapun tahu bahwa deadlinenya sudah mepet. Lalu, apa sih Self-Reliant itu?
Pagi ini saya harus pergi ke suatu tempat. Urusannya cuman 30 menitan. Tapi waktu perjalanannya ala lama banget. Jadi, rugi kalau keluar rumah hanya untuk satu urusan doang. Makanya, saya kalau pergi sekalian mampir di fitness center. Entah pulangnya, atau perginya. Pagi ini, ada jadwal kelas Sepeda Statis. Sampai di lokasi jam 9.30, pas pula diumumkan bahwa jadwalnya diundur menjadi jam 9.45. Ada yang bilang “Yaaaaaaa…”. Kalau saya, jadi punya waktu untuk menikmati secangkir kopi.
Jam 9.45 kami masuk ke ruang RPM. Tapi instrukturnya belum juga datang. Orang lain, pada nyimpen handuk ngetek sepeda. Lalu melanjutkan ngobrol di ruang tunggu. Saya, menggoes saja. Sendirian pun tak masalah. Jam 10.00, insrukturnya belum datang juga. Beberapa teman sudah mengambil handuknya, lalu pergi sambil menggerutu. Saya, sudah mulai mandi keringat sambil terus menggoes bersama belasan sepeda bisu.  
Jam 10.30, badan saya semakin panas. Terus menggoes sendirian. Handuk kecil terakhir dijemput pemiliknya. Tidak ada tanda-tanda instruktur datang, mengisyaratkan saya akan menggoes sendirian. Whatever! Saya lanjutkan saja. Sampai jam 10.45, pas 1 jam mengayuh tanpa henti. Dan saya pun tidak merasa rugi. Karena ketidakhadiran instruktur itu tidak berpengaruh apa-apa terhadap keinginan saya untuk bugar. Lanjut mandi air hangat. Done. With. Or. Without. Him.
Nah, “Done with or without him” itulah fondasi dari seorang self-reliant. Ada atau tidak orang lain, tetap melakukannya dengan sebaik-baiknya. Di kantor. Kita sering bergantung kepada orang-orang tertentu. Sehingga kalau orang itu tidak ada, kita jadi mati kutu. Orang tertentu itu biasanya atasan. Atau PIC. Atau orang yang pegang kunci. Lihat saja, betapa banyaknya urusan yang mandek gara-gara orang-orang itu nggak dateng. Yang lainnya, meskipun sudah dateng pun pada mengerumun saja.
“Loh, kan memang kita mesti nunggu, Dang!”  Benar. Role kita sebagai follower mah memang nunggu, alias pasif. “Tapi kan kita juga bukan leader, Dang!” benar juga. Tidak semua orang adalah leader. Tapi. Ada tapinya. Kita bisa menggerakan mesin tindakan kita with or without him. Bagaimana caranya? Gampang. Inget aja apa tujuan terpenting dalam hidup kita.
Orang yang nggak punya tujuan, wajar kalau tindakannya ditentukan oleh orang lain. Ada orang lain hayu. Nggak ada ya nggak apa-apa. Kenapa? Nggak punya tujuan. Tapi orang yang punya tujuan penting dalam hidupnya nggak bakal mau meresikokan tujuan itu hanya karena ketiadaan orang lain. Dia, bakal mengejar tujuannya ‘with, or without him’. Itulah seorang self-reliant.
Kalau dikantor Anda lebih banyak nongkrong daripada kerja, jelas; Anda nggak punya tujuan yang penting dalam bekerja. Punya, tujuan. Tapi gak penting. Tujuan Anda ecek-ecek. Sehingga rela kalau terhenti karena ketiadaan orang lain. Tujuan Anda bekerja itu tidak akan tercapai jika sekedar mengikuti arus perilaku kebanyakan orang. Percayalah bahwa; mayoritas karyawan dikantoran itu adalah orang-orang gagal. Gagal apa? Gagal mencapai tujuan pentingnya dalam bekerja.
Apa tujuan Anda bekerja? Karir. Nggak bakal kecapai karir bagus itu kalau kerjanya standar doang mah. Bayaran besar? Nggak bakal dibayar besar kalau jadi karyawan pasif mah. Karir bagus hanya untuk orang yang extra-ordinary. Yaitu pribadi yang penuh inisiatif. Memiliki tombol start sendiri. Punya generator energi pribadi. Insan yang berprinsip: “Done. With. Or. Without. Him”. Itulah seorang Self-Reliant. Andakah orang itu?
Catatan kaki:
Terlalu beresiko, jika menggantungkan nasib kepada orang lain mah. Karena, mereka sendiri pun belum tentu bisa mengatur nasibnya sendiri. Setelah tawakkal kepada Allah, mending kita berjuang saja meskipun tidak ada back up dari orang lain.
Salam hormat.
Mari Berbagi Semangat!
DEKADARUS – Dadang Kadarusman

Artikel
 
 

0 Comments

You can be the first one to leave a comment.

 
 

Leave a Comment