Home / Artikel / Apa Keahlian Anda?

Apa Keahlian Anda?

 
Serius. Apa keahlian Anda? Nggak usah mikir lama lah untuk menjawabnya. Sebutkan saja. Kalau masih harus mikir lama berarti Anda  tidak benar-benar yakin dengan jawaban yang hendak Anda berikan. Benar demikian?
Agak tragis kita ini memang. Sudah bekerja bertahun-tahun bahkan belasan hingga puluhan tahun. Tapi tidak memiliki keahlian yang apapun. Sory bung, ‘pengalaman’ sama sekali tidak menjadi jaminan memiliki keahlian.
Banyak orang yang telah melakukan atau menjalani berbagai pekerjaan. Tapi tidak jadi ahli. Banyak pula orang yang sudah pindah kesana dan kemari. Tapi tidak kunjung menjadi profesional tingkat tinggi.
Apa sih profesional tingkat tinggi itu? Bukan yang jabatannya tinggi, melainkan orang yang kompetensinya sangat bisa diandalkan oleh perusahaan. Ada saja kan atasan yang kemampuannya mengundang gunjingan bawahan? Jabatan mah biasa aja. Tapi kompetensinya, bikin orang terperangah. Gitu loh profesional tingkat tinggi.
Kalau ngomongin keahlian itu bukan semata-mata buat nyenengin perusahaan. Keahlian merupakan piranti yang bakal bisa ‘menjaga’ diri kita. Menjaga diri dari apa? Dari kehilangan pekerjaan. Kalau perusahaan menghadapi situasi sulit sekalipun, mereka bakal mati-matian mempertahankan para karyawan mumpuni.
Bagaimana kalau perusahaan sudah nggak sanggup sama sekali? Kalau kehilangan pekerjaan juga cuma jeda sebentar saja. Karena perusahaan lain juga butuh. Kalau kita benar-benar ahli. Bakal dapet lagi. Asal. Ente beneran punya keahlian.
Gimana kalau semua perusahaan pada gak punya lowongan yang cocok dengan keahlian kita? Semua perusahaan? Hmmmh, rada drama queen deh. Tapi. Anggap saja begitu situasinya. Bisakah keahlian kita menjaga diri kita? Bisa. Gimana caranya? You start your own business based on your expertise.
Ada pegawai di toko roti. Toko rotinya cukup terkenal. Outletnya lumayan banyak. Eh, nggak ada hujan dan angin tiba-tiba ‘diakuisi’, katanya. Toko-tokonya pada tutup. Karyawannya? Bisa ditebaklah. Gone. Done. Finitto.
Tapi ada nih yang udah kerja sambil belajar cara bikin roti, gimana jualannya, berapa harganya. Menolak menyerah pada keadaan. Dibikinnyalah roti rumahan. Dijual dan dititipin di warung-warung. Alhamdulillah. Ada sumber nafkah lagi. Keahliannya menjaga dirinya.
Anak-anak muda ini beda lagi. Mereka kerja di restoran. Menolak untuk hanya sekedar jadi pelayan walaupun emang pelayan. Mereka mencermati bagaimana cara bikin nasi goreng dan capcay. Lalu bagaimana nasib mereka selanjutnya? Mereka dipromosi menjadi juru masak. Keren kan?
Semua jadi juru masak restoran? Ya enggak sih. Sebagian nggak bisa dipertahankan ketika perusahaan harus mengambil keputusan yang sulit. Bisnis kadang memang begitu kan. Ada saat pahit kadang.
Lalu kemana anak-anak muda itu perginya? Ke rumah bedeng yang disewa bareng-bareng. Lalu, dilantai dingin beralas tikar itu mereka melakukan konfrensi tikar bundar. Dan menghasilkan sebuah resolusi;buka gerobak nasi goreng dan capcay. Cita rasanya belum selevel resto itu, tapi aliran nafkahnya…sanggup menggantikan yang luput darinya.
Masih banyaklah contoh lainnya. Intinya sih keahlian mah nggak bakalan menolak kalau disuruh sang empunya untuk bangun dari tidur. Dikala tuannya membutuhkan, dia siap tempur. Masalahnya, kita yang lalai. Selama bekerja itu cuman sebatas menjalankan kewajiban aja. Maka ngerjainnya juga pas-pasan. Kalau begitu mah, mana bisa jadi keahlian kan?
Makanya teman. Mulai sekarang. Kerja itu kudu lebih bener lagi. Niatnya. Caranya. Dedikasinya. Kesungguhannya. Profesionalismenya.
Kerja di bidang apapun oke. Tapi pastikan bahwa kita menjadi ahli dibidang itu. Minimal, orang tahu kalau kitalah jagonya. Dan Anda, bisa melakukannya dalam posisi apapun. Karena keahlian itu, tidak berhubungan dengan jabatan.

Artikel
 
 

0 Comments

You can be the first one to leave a comment.

 
 

Leave a Comment