Home / Artikel / Antara Percaya Diri Dan Takabur

Antara Percaya Diri Dan Takabur

 

Percaya diri itu bagus. Semua orang sepakat soal itu. Tapi, Apakah Anda bisa membedakan antara Percaya Diri dengan Takabur? Saya kira, tidak mudah juga ya. Makanya, kita sering secara tidak sadar ketika bersikap takabur.

Dalam olah raga keras seperti Ultimate Fighting Club (UFC) kita bisa melihat perbedaannya dengan jelas. Mungkin karena karakter profesinya memang menuntut untuk begitu. Untuk membuat lawan gentar, masing-masing harus sesumbar.

Nah. Sesumbar itu, merupakan salah satu indikasi adanya sifat takabur dalam diri kita. Ketika seseorang sesumbar, dia mengagung-agungkan dirinya sendiri dengan meremehkan orang lain.

Namun, sifat takabur tidak selalu ditunjukkan dalam bentuk sesumbar seperti itu. Dalam profesi kita, malah tidak lazim untuk sesumbar. Justru ketakaburan kita sering berbentuk bisikan hati hingga tidak terdengar. Makanya kita, tidak selalu sadar.

Apalagi dalam soal persaingan memperebutkan jabatan di kantor. Kalau sesumbar, malah bisa berabe. Kita cenderung memasang strategi ‘diam-diam menghanyutkan’.

Contoh. Betapa banyaknya orang yang merasa dirinya lebih baik dari orang lain. Lalu mereka kecewa karena ternyata menejmen lebih memilih orang lain untuk posisi itu. Lalu mutung dengan keputusan itu. Bahkan protes;’kenapa dia yang dipilih. Bukan aku?’

Coba Anda ingat-ingat kembali. Bukankah begitu respon iblis ketika Tuhan memilih Adam menjadi khalifah di muka bumi? Ternyata, takabur itu bukan hal sepele kalau dipandang dari aspek religi. Hukumannya berat sekali. Diusir dan dimurkai Ilahi.

Bagaimana dengan Percaya Diri? Kita, tidak harus membanding-bandingkan diri kita dengan orang lain untuk menjadi pribadi yang Percaya Diri. Karena, PD itu berkaitan dengan bagaimana kita menyiapkan diri sendiri untuk menghadapi situasi tertentu.

Ketika sudah melakukan persiapan sebaik mungkin, maka kita pun bisa lebih percaya diri. Dan hal itu, tidak ada hubungannya dengan orang lain.

PD itu, merupakan keyakinan yang ditopang oleh kemampuan, persiapan, dan antisipasi. Kalau kita mampu, kita yakin akan dapat mengatasi tantangan yang dihadapi. PD.

Kalau segala sesuatunya sudah dipersiapkan, kita yakin bahwa apa pun yang akan terjadi nanti; kita sudah siap untuk menghadapinya. PD.

Bagaimana dengan antisipasi? Ya kalau segala kemungkinan yang bisa terjadi sudah diantisipasi jauh-jauh hari, maka kita pun tidak akan terkejut. Tenang saja. Lalu menghadapinya dengan enjoy aje. PD.

Sekarang bayangkan. Kita tidak punya kemampuan. Tidak melakukan persiapan. Dan tidak mengantisipasi berbagai kemungkinan. Bagaimana bisa PD kan?

Jadi makin jelas kalau PD itu tidak berkaitan dengan perbandingan diri kita dengan orang lain. Malah dalam teori komunikasi, orang sesumbar itu sesungguhnya sedang menutupi perasaan inferior terhadap orang lain. Makanya dia berkoar.

Fokus saja pada 3 hal tadi. Kemampuan. Persiapan. Antisipasi. Insya Allah. Rasa Percaya Diri itu akan secara otomatis tumbuh sendiri didalam hati sanubari.

Jebakan betmennya adalah, kalau kita sudah memiliki ketiga aspek penunjang PD itu, kita jadi merasa lebih baik dari orang lain. Nah, yang terakhir inilah yang menjadi bibit takabur. Seperti api kecil yang lama kelamaan membesar. So, be careful.

Ketika orang lain terpilih seperti tadi misalnya. Orang takabur bertanya; ‘kenapa dia yang dipilih, bukan gue?’

Kalau orang percaya diri? Pertanyaannya jadi begini;” ‘kenapa dia yang dipilih, bukan gue?’

Loh. Sama dong? Sama pertanyaannya. Tapi beda itikadnya. Orang takabur, menggugat keputusan yang sudah dibuat. Orang PD menjadikan keputusan itu sebagai cermin untuk mawas diri. Kenapa dia yang kepilih? Berarti ada hal lain yang mesti gue perbaiki didalam diri. Kan begitu.

Catatan kaki:

Orang Percaya Diri itu tidak merendahkan diri sendiri. Dan tidak juga meremehkan orang lain. Dia menghargai dirinya sendiri. Dan menghormati keberadaan orang lain.

 


Artikel
 
 

0 Comments

You can be the first one to leave a comment.

 
 

Leave a Comment