Home / Artikel / Al-Furqon Antara Benci dan Rindu

Al-Furqon Antara Benci dan Rindu

 

Istilah ulama-intelek dan intelek-ulama pernah mewarnai jalannya proses pembentukan negara ini. Kedua kelompok ini memiliki pengaruh sekaligus andil besar dalam setiap menentukan suatu keputusan. Tawar menawar di antara keduanya tidak terelakan karena masing-masing memiliki kepentingan yang berbeda. Kelompok pertama menginginkan agar masyarakat mayoritas memiliki hak istimewa mengingat saat itu Islam memang sebagai komunitas dengan jumlah yang terbanyak dan sebagai usaha politik identitas. Kelompok kedua berusaha menjaga keutuhan dan kesatuan rakyat Indonesia mengingat Indonesia memiliki wilayah yang membentang dari Sabang sampai Merauke dengan berbagai etnis, suku, budaya dan kerarifan lokal termasuk agama pada saat itu tidak hanya Islam sebagai mayoritas (masyarakat mayoraksi), tapi terdapat Kristen serta Hindu, Budha dan agama lokal yang telah hadir jauh sebelum Islam tiba di bumi Nusantara. Alhasil dengan negosiasi panjang, kompromi kedua belah pihak bisa diatasi dengan baik karena jika kita telaah secara seksama—hal yang dikompromikan bukanlah sesuatu yang sepele dan ringan, melainkan menetapkan bentuk dan dasar negara yang berkaitan dengan eksistensi Indonesia sebagai bangsa dan negara. Kompromi tersebut bisa dicapai tidak terlepas dari andil seorang Soekarno. Sang pemimpin kharismatik dan negosiator ulung yang mampu memadukan kepentingan yang berbeda dengan satu cita, mengikat perbedaan dengan persaudaraan sehingga kesatuan dan persatuan tetap utuh dan satu dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Tulisan ini bukan untuk membuka diskursus Pancasila atau sekadar romantisme mengenang para founding father yang telah menemukan Pancasila sebagai formulasi hebat dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara—melainkan hanya fokus kepada kalimat pertama tulisan ini dimulai, yaitu istilah ulama-intelek dan intelek-ulama dalam konteks kepesantrenan.

Ulama-intelek merupakan orang-orang yang memiliki latar belakang pesantren dan memang memiliki kemampuan di bidang keagamaan tapi melek wawasan-wawasan dan pengetahuan umum. Sebaliknya intelek-ulama orang-orang yang memiliki latar belakang pendidikan umum tapi melek pengetahuan agama. Atau Yudi Latif mendefinisikan dengan sederhana, “ulama-intelek” adalah ulama (keluaran pendidikan agama) yang melek pengetahuan modern. Adapun “intelek-ulama” adalah intelegensia (keluaran pendidikan sekuler) yang melek pengetahuan agama.

Hadirnya pesantren baik kini maupun masa lalu—di tengah masyarakat—untuk memberikan kontribusi kepada masyarakat luas sekaligus mengimbangi agar ilmu keagamaan tidak tergerus oleh banyaknya sekolah-sekolah umum baik negeri maupun swasta yang notebene pendidikan agamanya memiliki porsi sedikit di dalam kurikulum. Untuk itu pula, lahir pesantren yang bertujuan mengintegrasikan antara pendidikan agama dengan pendidikan umum agar peserta didiknya memiliki bekal yang sepadan di antara keduanya. Bentuk pesantren ini diprakarsai oleh pondok pesantren Darussalam pada tahun 1926. Atau lebih populer dengan sebutan pondok pesantren Gontor yang dinisbatkan pada nama salah satu daerah di Ponorogo Jawa Timur. Hingga dewasa ini terdapat dua tipologi pesantren yang dikenal oleh masyarakat, yaitu pesantren salafi (tradisional) dan pesantren modern tadi. Tipe pesantren modern ini mendapat tempat di hati masyarakat sehingga hampir di tiap daerah berdiri pesantren semacam ini dengan berbagai motivasi dan orientasi.

Pondok pesantren Al-Furqon bisa dikategorikan pesantren modern ini karena memiliki kurikulum yang berusaha memadukan antara ilmu keagamaan dan ilmu umum. Ia lahir dari kelompok pengajian yang digagas oleh masyarakat sekitar dan sebagian tokoh Muhammadiyah daerah sekitar. Barangkali kelompok kedua memiliki politic will yang besar ketimbang kelompok pertama hingga akhirnya pesantren ini berdiri sekitar tahun 1992 yang termasuk amal usaha Muhammadiyah hingga kini.

Pesantren yang telah melewati lebih dari dua dekade ini mampu survive di tengah hiruk pikuk pesantren-pesantren lain bahkan ia mampu mengharumkan namanya hingga luar daerah. Namun sebenarnya tantangannya tidak hanya itu, ia harus segera berbenah untuk menyongsong sebuah optimesme melahirkan ulama-intelek dan intelek-ulama dari rahimnya. Ia harus berani bersaing dengan pesantren-pesantren setipe atau yang berbeda dengannya untuk membuat kontribusi konkrit bagi masyarakat, bangsa dan negara. Karena hal ini akan berbanding lurus—jika berhasil—alumni-alumni yang memberikan gagasan positif, memberikan kontribusi bagi sekitarnya, akan berdampak pada terkonstruknya citra positif bagi almamaternya. Maka tak salah ungkapan yang menyatakan bahwa “kesuksesan almamater bergantung pada kesuksesan alumninya”.

Solusi yang ditawarkan ialah kembali pada dasar dan tujuan pesantren didirikan. Atau jika meminjam istilah Nahdhatul Ulama pada muktamar Cipasung ialah “kembali ke khittah”. Nah saatnya pesantren kembali ke khittah ia didirikan: “Mencetak kader pesantren sebagai fuqaha, ulama dan zu’ama”. Lebih afdhal kiranya jika khittah ini dikenal, dihayati dan disimpan terpatri dalam hati tiap santri agar laku yang dikerjakan sejalan dengan nafas pesantren; sesuai al-Qur’an dan hadis.

Fuqaha berarti memiliki kemampuan memahami dalam perundang-undangan agama berserta aplikasinya karena untuk menuju kebahagian dan keselamatan diperlukan jalan (syari’ah). Ulama dalam arti bebas ialah orang yang memiliki ilmu, pengetahuan dan wawasan tidak hanya di bidang agama, melainkan di bidang alam (biologi) maupun di bidang sosial (sosiologi). Karena diantara hamba yang takut terhadap Allah ialah orang-orang yang berilmu (innamā yakhsya Allah min ibādihi al-ʿulamā’). Dan yang terakhir, zu’ama jika diartikan bebas adalah komunitas pecinta politik atau politisi. Sebab istilah politisi atau politikus terlanjur memiliki citra negatif di hadapan masyarakat, zu’ama layak diartikan sebagai negarawan. Inilah yang diidamkan bangsa saat ini, yaitu munculnya seorang negarawan. Terlalu lama perdebatan klaim politisi/politikus dengan negarawan oleh para elit pejabat, namun terpenting adalah sifat-sifat yang merepresentasikankan nilai-nilai islamis dalam berbangsa dan bernegara bukan nilai-nilai simbolis. Nah, sikap seorang negarawan seharusnya timbul dari seorang santri karena langsung dan banyak berinteraksi dengan kajian-kajian dan spirit semangat keislaman.

Oleh sebab itu, pesantren Al-Furqon memiliki banyak potensi untuk melahirkan Ahmad Dahlan-Soekarno dan Soekarno-Ahmad Dahlan baru ketimbang sekolah lain dengan mengintegrasikan antara konsep fuqaha, ulama dan zu’ama. Tentu saja dengan instrumen pengajar yang berkualifikasi-kompeten yang menghayati tiga konsep tersebut—jika terintegrasikan, ia merupakan bagaikan lautan yang memiliki mutiara-mutiara indah nan bernilai yang siap menjadikan ulama-intelek dan intelek-ulama.

 

By : Irfan Sanusi

Dikutip dari : http://www.kompasiana.com/irfan_sanusi/al-furqon-antara-benci-dan-rindu_54f859a0a33311ae608b522d


Artikel
 
 

0 Comments

You can be the first one to leave a comment.

 
 

Leave a Comment