Home / Artikel / Agar Mendekat Lagi Kepada …

Agar Mendekat Lagi Kepada …

 
Di bulan suci Ramadan ini, mari kita merenung sejenak dengan membaca tulisan dibawah ini
Ada kalanya, segala sesuatu dalam hidup kita berjalan lancar. Uang banyak. Badan sehat. Keluarga rukun. Pekerjaan aman. Makanya dada kita serasa plong. Perasaan tenang. Hati tenteram. Hari-hari menjadi serba indah. Segalanya serba menyenangkan.
 
Tetapi, ada masa-masa dimana kita justru dijauhkan dari kenikmatan itu. Walaupun tidak direnggut semua, namun cukup untuk membuat dada kita terasa sesak. Misalnya, uang ada. Tapi sakit. Atau sebaliknya. Sehat sih. Ada uang juga. Tapi dihadapkan pada masalah pelik. Kenikmatan hidup pun berkurang secara signifikan.
 
Lantas, kita merintih dengan lirih;”Ya Alloh, kenapa kehidupan hamba jadi sesulit ini?”
 
Lucunya, saat dimanjakan oleh semua kesenangan itu kita tidak bertanya;”Ya Alloh, kenapa kehidupan saya kok serba indah begini….?”
 
Saat sedang senang, paling poll kita bilang alhamdulillah. Nggak ada menyungkur lalu menangis terisak-isak minta disayangi Alloh. Sujud syukur pun hanya sesekali kalau kebagian rejeki nomplok. Setelah itu, sibuklah kita menikmati semua priviledge itu.
 
Boro-boro bersimpuh. Adzan pun sering dicuekin. Tanggung. Nanti saja. Bentar lagi. Ujung-ujungnya, sholat dilakukan saat waktunya sudah hampir habis. Nikmatnya sujud tertutupi oleh kenikmatan lain. Ibadah hanya berupa ritual. Sekedar menggugurkan kewajiban.
 
Kapan ibadah itu terasa nikmat lagi? Kapan doa itu terasa lezat lagi? Kapan berdzikir itu terasa gurih lagi? Saat kita sedang dilanda kesusahan. Biasanya, semakin pelik permasalahan yang kita hadapi, semakin mendekat kita kepada Ilahi.
 
Jangan tersinggung ya. Saya tidak sedang mengkritik Anda. Melainkan menceritakan apa yang saya alami sendiri. Semacam autokritik. Bahwa sebagai manusia biasa, saya masih suka terjebak oleh kenikmatan duniawi. Lupa tujuan Alloh menciptakan manusia. Hingga kehilangan lezatnya beribadah kepadanya.
 
Jika berada dalam kapal yang hampir karam, manusia menyeru Tuhannya dengan tulus ikhlas. Tetapi ketika badai dan topan itu dibuat reda. Kemudian mereka mendarat dengan selamat. Lupalah kepada Alloh ta’ala. Demikian dilukiskan perilaku kita dalam Al-Qur’an.
 
Gue banget. Ayat itu jleb. Menusuk jantung kesadaran saya. Sekaligus menjawab pertanyaan tadi ‘Ya Alloh. Kenapa hidup saya jadi sesulit ini?’ Agar kamu mendekat lagi kepada Alloh.
 
Apakah Anda menemukan jawaban yang sama? Alhamdulillah ya. Alloh masih sayang pada kita. Sehingga Dia masih terus mengingatkan kita untuk terus berlabuh kehadiratnya.
 
Dia tahu kalau kita suka terlena oleh kenikmatan yang diberikannya. Makanya sesekali Dia kasih kesulitan dan cobaan kepada kita. Well, itulah cara paling efektif untuk memangil kita agar mendekat kan?
 
Lantas, kenapa banyak orang yang jauh dari tuntunan Alloh tapi hidupnya malah serba indah? Bukan sekedar jauh. Bahkan dengan terang-terangan melanggar larangannya. Hidupnya malah serba enak.
 
Al-Qur’an mengabadikan berbagai kisah seperti itu. Dari zaman dahulu pun banyak yang begitu. Qorun, misalnya. Kaya raya. Serba senang. Tapi, Allah menjadikannya sebagai ibroh. Bahwa harta. Kesenangan. Dan keserbaenakan itu cenderung menjauhkan kita dari Alloh.
 
Maka beruntunglah orang yang masih suka diuji oleh Alloh. Karena itu merupakan pertanda bahwa Alloh masih berkenan untuk menerima kedatangan kita. Alloh, masih suka melihat kita bersimpuh dihadapannya. Alloh, masih bersedia mendengar rintihan dan doa-doa lirih kita.
 
Semoga, dimampukannya kita untuk melewati fase-fase penuh kesulitan ini. Dan dijadikannya kita, hamba yang bisa menikmati berbagai keindahan hidup sambil tetap mendekat kepadanya. Melalui rasa syujur, dan ibadah yang khusyu sesuai tuntunannya.
 
Salam hormat.
Mari Berbagi Semangat!
DEKA – Dadang Kadarusman

Artikel
 
 

0 Comments

You can be the first one to leave a comment.

 
 

Leave a Comment